Ekonom Prediksi Ke Depan, Gen Z Mau Beli Rumah Tapak Makin Sulit, Apartemen Jadi Paling Mungkin
Kredit Foto: Antara/Harviyan Perdana Putra
Generasi Z (Gen Z) menghadapi tantangan besar dalam menentukan pilihan antara membeli rumah melalui Kredit Pemilikan Rumah (KPR) atau menyewa hunian.
Kenaikan harga properti yang terus terjadi akibat inflasi dan keterbatasan lahan membuat kepemilikan rumah menjadi semakin sulit dijangkau oleh kalangan muda.
Pakar manajemen risiko Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dimas Bagus Wiranatakusuma PhD, menilai perencanaan kepemilikan rumah perlu dilakukan sejak usia muda agar kemampuan membeli aset tidak semakin tergerus oleh inflasi.
"Harga rumah sebenarnya bukan semakin mahal, melainkan nilai uang kita yang terus menurun akibat inflasi. Sementara itu, rumah, tanah, dan emas merupakan aset yang memiliki nilai intrinsik dan cenderung terus meningkat dibanding uang tunai,” ujar Dimas.
Menurut Dimas, pertumbuhan penduduk yang tidak seimbang dengan ketersediaan lahan berpotensi mengubah pola hunian masyarakat Indonesia di masa depan.
Ia memprediksi rumah tapak akan semakin sulit dijangkau sehingga hunian vertikal seperti apartemen menjadi pilihan yang lebih umum, sebagaimana terjadi di sejumlah negara tetangga.
Meski KPR masih menjadi solusi yang paling realistis untuk memiliki rumah, Dimas mengingatkan Gen Z agar memahami secara menyeluruh skema pembiayaan yang ditawarkan perbankan, terutama terkait perubahan suku bunga setelah masa promosi berakhir.
"Bank konvensional biasanya terlihat murah di awal karena bunganya rendah pada beberapa tahun pertama. Namun setelah periode fixed rate selesai, bunganya bersifat floating dan bisa meningkat cukup tinggi," katanya.
Sebagai alternatif, Dimas menyarankan generasi muda mempertimbangkan pembiayaan syariah melalui akad murabahah maupun Musyarakah Mutanaqisah (MMQ).
Pada akad murabahah, nilai cicilan ditetapkan sejak awal hingga akhir masa pembiayaan sehingga lebih memudahkan perencanaan keuangan. Sementara itu, MMQ menggunakan konsep kepemilikan bersama dan sewa yang dinilai berpotensi menghasilkan total pembayaran yang lebih rendah.
"Kalau ingin total pembayaran lebih murah, MMQ sebenarnya cukup menarik. Namun memang belum banyak bank yang menawarkan karena margin keuntungannya bagi perbankan lebih kecil dibanding murabahah," jelasnya.
Dimas juga mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan finansial dengan membatasi porsi cicilan utang, termasuk cicilan rumah, agar tidak melebihi 50 persen dari total pendapatan bulanan.
Bagi generasi muda yang belum siap mengambil KPR, ia menyarankan mulai mengumpulkan aset likuid sebagai persiapan dana uang muka atau down payment (DP) rumah.
"Minimal mulai siapkan aset lancar seperti tabungan, reksa dana, atau emas yang nantinya dikhususkan untuk dana DP rumah. Yang terpenting adalah kedisiplinan untuk mulai merencanakannya sejak dini," ujarnya.
Menurut Dimas, keputusan membeli rumah atau menyewa sebaiknya disesuaikan dengan kondisi keuangan masing-masing. Namun, perencanaan yang matang sejak usia muda tetap menjadi kunci agar target memiliki hunian dapat tercapai di masa depan.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Ferry Hidayat
Tag Terkait: