Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Dididik Belanda, Ismael Saibari Justru Jadi Algojo yang Menyingkirkan Oranje dari Piala Dunia 2026

Dididik Belanda, Ismael Saibari Justru Jadi Algojo yang Menyingkirkan Oranje dari Piala Dunia 2026 Kredit Foto: Gemini/Wahyu Pratama
Warta Ekonomi, Jakarta -

Kemenangan Maroko atas Belanda melalui adu penalti dengan skor 3-2 setelah bermain imbang 1-1 selama 120 menit menjadi salah satu kejutan terbesar di fase gugur Piala Dunia 2026, tetapi perhatian publik justru tertuju kepada Ismael Saibari yang memiliki hubungan erat dengan sepak bola Belanda.

Ironinya, pemain berusia 25 tahun tersebut merupakan jebolan akademi PSV Eindhoven dan menghabiskan sebagian besar karier profesionalnya di Eredivisie sebelum menjelma menjadi salah satu bintang Maroko.

Saat adu penalti berlangsung, Saibari tampil sebagai eksekutor terakhir yang menentukan nasib pertandingan.

Dengan ketenangan luar biasa, ia mengirim bola ke sisi kanan gawang sehingga kiper Belanda Bart Verbruggen bergerak ke arah yang salah dan Maroko memastikan tiket menuju babak 16 besar.

Momen tersebut terasa semakin menyakitkan bagi Belanda karena Saibari bukanlah pemain asing bagi publik Negeri Kincir Angin.

Ia bergabung dengan akademi PSV Eindhoven pada musim panas 2020 sebelum dipromosikan ke tim utama dua tahun kemudian dan berkembang menjadi salah satu gelandang serang paling berbahaya di Eredivisie.

Selama membela PSV, Saibari membantu klub tersebut meraih tiga gelar Liga Belanda sekaligus mencatatkan 42 gol dan 29 assist dari 142 pertandingan di seluruh kompetisi.

Musim 2025/2026 juga menjadi periode terbaiknya setelah berhasil membukukan 15 gol yang membuat namanya masuk radar klub-klub elite Eropa.

Penampilan impresif itu bahkan membuat Bayern Munich sepakat merekrutnya dengan nilai transfer mencapai 55 juta euro atau sekitar Rp1 triliun.

Yang membuat kisah Saibari semakin unik, ia sebenarnya memiliki kesempatan membela empat negara berbeda di level internasional.

Lahir di Terrassa, Spanyol, kemudian tinggal di Belgia dan Belanda selama bertahun-tahun, Saibari memenuhi syarat memperkuat Spanyol, Belgia, Belanda, maupun Maroko.

Meski fasih berbahasa Belanda dan berkembang di kompetisi domestik negara tersebut, Saibari akhirnya memilih memperkuat Maroko sebagai bentuk penghormatan terhadap tanah kelahiran orang tuanya.

Keputusan itu kini menjadi ironi besar bagi Belanda karena pemain yang dibesarkan oleh sistem sepak bola mereka justru menjadi algojo yang mengubur mimpi Oranje melangkah lebih jauh di Piala Dunia 2026.

Belanda sebenarnya sempat berada di atas angin setelah Cody Gakpo membawa tim unggul pada menit ke-72 melalui serangan balik cepat.

Baca Juga: Mimpi Buruk Ronald Koeman: Belanda Resmi Tersingkir dari Piala Dunia 2026 di Tangan Maroko

Namun, Maroko menolak menyerah hingga Issa Diop mencetak gol penyama kedudukan pada masa injury time yang memaksa pertandingan berlanjut ke babak tambahan.

Tidak ada gol tambahan tercipta selama extra time sehingga laga harus ditentukan melalui adu penalti.

Setelah beberapa eksekutor kedua tim gagal menjalankan tugasnya, Saibari muncul sebagai penendang terakhir yang memastikan kemenangan Maroko sekaligus mengirim Belanda pulang lebih awal dari Piala Dunia 2026.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Wahyu Pratama