Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Penasihat Presiden: Percuma Dikasih Modal

Penasihat Presiden: Percuma Dikasih Modal Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Warta Ekonomi, Jakarta -

Penasihat Khusus Presiden bidang Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Buruh, Said Iqbal, meminta Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara untuk mendorong bank-bank BUMN (Himbara) memberikan suntikan modal kerja kepada PT Pakerin sebesar Rp400 miliar.

Langkah strategis ini diharapkan mampu menyelamatkan dan merekrut kembali sekitar 2.700 karyawan yang terdampak pemutusan hubungan kerja (PHK).

PT Pakerin, pabrik bubur kertas yang beroperasi di Mojokerto, Jawa Timur, saat ini tengah didera krisis modal kerja yang akut. Masalah tersebut muncul setelah dana miliaran rupiah milik perusahaan terjebak di dalam bank yang dilikuidasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

"PT Pakerin ini sebenarnya sehat, yang tidak sehat itu banknya (Bank Prima). Setelah ini Danantara akan memeriksa kesehatan perusahaan Pakerin dan mendorong Bank Himbara memberikan dana pinjaman modal kerja Rp400 miliar," ujar Said Iqbal usai bertemu dengan COO BPI Danantara, Dody Oskaria, di Wisma Danantara, Jakarta, Rabu (1/7/2026).

Sebagai langkah awal penyelamatan hak-hak pekerja, Said menyampaikan bahwa dari hasil pertemuannya dengan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), aset likuid PT Pakerin sebesar Rp159 miliar yang sempat tertahan dipastikan bisa dicairkan.

Sesuai kesepakatan antara pihak manajemen dan serikat buruh, seluruh dana Rp159 miliar tersebut akan langsung dialokasikan untuk membayar lunas pesangon karyawan yang terkena PHK.

"Karena dia punya aset bagus di LPS. Jadi langkahnya, aset yang likuid Rp159 miliar ini akan dibayarkan untuk pesangon, sesuai perjanjian antara buruh dengan pengusaha," jelas Said.

Terkait bank pelat merah mana yang akan mengucurkan pinjaman modal kerja lanjutan, Said menyerahkan mekanismenya kepada pasar, baik itu melalui Bank Mandiri, BRI, BNI, maupun BTN, tergantung pada ketertarikan masing-masing bank Himbara.

Selain PT Pakerin, dalam pertemuan tersebut Said Iqbal juga menyodorkan sejumlah nama perusahaan di sektor industri tekstil dan manufaktur yang dinilai mendesak untuk diselamatkan demi menghindari gelombang PHK massal. Beberapa di antaranya adalah PT Riki Grup di Bogor, PT Meyer, hingga PT Granito.

Kendati demikian, Said menggarisbawahi bahwa penalti atau penyaluran pinjaman dari Himbara tetap harus mengedepankan prinsip kehati-hatian (prudential banking) dan melihat kelayakan produk di pasar (feasible). BPI Danantara hanya bertindak sebagai pendorong kemudahan regulasi bagi perusahaan yang memiliki prospek cerah.Penasihat Presiden: Percuma Dikasih Modal

"Sepanjang sekali lagi semua bantuan dari Danantara feasible, pasar bisa menerima produk mereka. Jangan sampai seperti keramik yang dipaksakan hidup lagi tapi kalah saing dengan keramik China, itu percuma dikasih modal. Beda dengan Pakerin, produksi bubur kertas mereka diserap pasar dalam negeri dan persaingannya tidak terlalu ketat karena mereka salah satu pemain utama," pungkas Said.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Ferry Hidayat
Editor: Ferry Hidayat