Kredit Foto: Ilham Nurul Karim
BAIC Indonesia menegaskan komitmennya untuk mendukung pengembangan industri kendaraan listrik nasional dengan menyiapkan perakitan lokal (Completely Knocked Down/CKD) BAIC T1. Mobil listrik pertama BAIC di Indonesia itu ditargetkan mulai diproduksi di dalam negeri pada pertengahan 2027 dengan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) mencapai 60 persen.
Chief Operating Officer PT JIO Distribusi Indonesia, Dhani Yahya, mengatakan, semula BAIC berencana memulai perakitan lokal dengan TKDN 40 persen pada akhir 2026. Namun, perusahaan memutuskan langsung melompat ke target TKDN 60 persen agar selaras dengan arah regulasi pemerintah.
"Kami tadinya berencana di akhir tahun ini sudah masuk TKDN 40 persen. Namun karena VIN-nya hanya bisa 2026, akhirnya kami memutuskan langsung menuju TKDN 60 persen," ujar Dhani di Tangerang, Kamis (9/7/2026).
Menurut dia, proses persiapan fasilitas produksi membutuhkan waktu sekitar satu tahun. Karena itu, BAIC menargetkan lini produksi CKD BAIC T1 mulai beroperasi pada Juli 2027.
"Kami lihat timeline-nya kurang lebih satu tahun untuk menyiapkan CKD production line. Mudah-mudahan pada Juli 2027 sudah bisa start of production di Indonesia dengan TKDN 60 persen," katanya.
Dhani menjelaskan, keputusan tersebut juga mempertimbangkan aspek bisnis. Jika produksi lokal dimulai pada akhir 2026, kendaraan yang dihasilkan masih menggunakan nomor identifikasi kendaraan (Vehicle Identification Number/VIN) tahun 2026 sehingga dinilai kurang ideal untuk dipasarkan pada tahun berikutnya.
"Kalau diproduksi Desember, VIN-nya tetap 2026. Tahun depan konsumen tentu menginginkan kendaraan dengan VIN 2027. Jadi kami memilih menyesuaikan jadwal produksi," ujarnya.
Siapkan Investasi Perakitan Baterai
Tak hanya menyiapkan fasilitas perakitan kendaraan, BAIC juga berencana melokalisasi produksi baterai sebagai bagian dari upaya memenuhi target TKDN.
Baca Juga: Intip Spesifikasi BAIC T1, Mobil Listrik Baru Penantang di Segmen Hatchback Crossover
Dhani mengungkapkan, perusahaan tengah menjajaki kerja sama dengan salah satu pemasok baterai di Indonesia. Untuk merealisasikan proyek tersebut, BAIC menyiapkan investasi sekitar 28 juta yuan atau sekitar Rp65 miliar.
"Untuk sisi baterai kami sedang melakukan penjajakan dengan salah satu vendor di Indonesia. Investasinya kurang lebih 28 juta yuan atau sekitar Rp65 miliar dan kami siap untuk investasi tersebut," kata Dhani.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ilham Nurul Karim
Editor: Fajar Sulaiman