Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Naik Hampir 3 Kali Lipat, Amman Bidik Produksi Konsentrat 1,29 Juta DMT di 2026

Naik Hampir 3 Kali Lipat, Amman Bidik Produksi Konsentrat 1,29 Juta DMT di 2026 Kredit Foto: Ist
Warta Ekonomi, Jakarta -

PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) menargetkan produksi konsentrat tembaga sebesar 1,29 juta dry metric ton (DMT) dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026. Target tersebut meningkat hampir tiga kali lipat dibandingkan realisasi produksi 2025 yang mencapai 453,4 ribu DMT.

Presiden Direktur PT Amman Mineral Nusa Tenggara, Rachmat Makkasau, mengatakan lonjakan produksi tersebut ditopang oleh beroperasinya fasilitas pemurnian (smelter) tembaga di Sumbawa yang kini telah mampu mengolah seluruh produksi konsentrat dari tambang.

"Saat ini saya dapat melaporkan bahwa sejak sekitar April 2026 kegiatan operasi telah mulai berjalan dan proses ramp-up berlangsung dengan baik. Pada sekitar Juni 2026 kami telah mampu memproses seluruh produksi yang dihasilkan oleh tambang saat ini," kata Rachmat dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XII DPR RI, Selasa (15/7/2026).

Keberhasilan proses ramp-up tersebut mulai tercermin pada kinerja produksi smelter sepanjang semester I 2026. Hingga kuartal II, AMMAN telah menghasilkan 46 ribu ton katoda tembaga, 3,7 ton emas, dan 14,6 ton perak.

"Pada kuartal II 2026 kami telah mampu memproduksi 46.000 ton katoda tembaga, 3,7 ton emas, dan 14,6 ton perak. Selain itu, terdapat produksi selenium dan asam sulfat," ujarnya.

Selain logam utama tersebut, smelter juga telah menghasilkan 24 DMT selenium dan 421,8 ribu DMT asam sulfat hingga semester I 2026.

Dengan capaian tersebut, perseroan optimistis target produksi produk hasil pemurnian hingga akhir tahun dapat tercapai. 

Sepanjang 2026, AMMAN membidik produksi sekitar 162 ribu ton katoda tembaga, 16 ton emas, 45 ton perak, 91 ton selenium, 1,96 ton telurium, serta 572 ribu ton asam sulfat.

Sementara itu, di sisi hulu, peningkatan produksi konsentrat pada 2026 juga ditopang oleh perkembangan aktivitas penambangan di Tambang Batu Hijau. 

Rachmat menjelaskan, rendahnya produksi pada 2025 merupakan bagian dari siklus penambangan karena perusahaan memfokuskan kegiatan pengupasan lapisan penutup (stripping) pada Fase 8 sehingga volume bijih yang ditambang lebih rendah.

"Produksi kami pada tahun 2025 memang mengalami penurunan. Selanjutnya, pada tahun 2026 direncanakan terjadi peningkatan produksi yang akan terus berlanjut pada tahun 2027 dan tahun-tahun berikutnya," katanya.

Seiring berakhirnya fase tersebut, perusahaan memperkirakan produksi konsentrat tetap terjaga di atas 1 juta DMT dalam beberapa tahun mendatang. 

Berdasarkan proyeksi perusahaan, produksi konsentrat diperkirakan mencapai sekitar 1,2 juta DMT pada 2027, 1,18 juta DMT pada 2028, dan 1,11 juta DMT pada 2029.

Baca Juga: Adu Kuat Freeport vs Amman, Siapa Unggul di Hilirisasi Tembaga RI?

Baca Juga: AMMAN Siapkan Perawatan Terencana untuk Optimalkan Kinerja Smelter Tembaga di NTB

"Hal ini disebabkan mulai tahun depan kami akan lebih banyak mengambil dan memproses bijih dalam kegiatan penambangan," ujar Rachmat.

Di sisi pemasaran, Rachmat mengatakan hasil produksi smelter saat ini masih diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik. Namun, ketika kapasitas produksi telah dimanfaatkan secara optimal, perusahaan membuka peluang ekspor, terutama untuk produk katoda tembaga.

"Saat ini hampir seluruh produksi dipasarkan di dalam negeri. Namun ketika seluruh kapasitas produksi telah tercapai, kemungkinan kami perlu melakukan ekspor, terutama untuk produk katoda tembaga," tutupnya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra