Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Bitcoin Tembus US$65.500, Ini Pemicu Kenaikannya

Oleh: Bitcoin kembali menyentuh US$65.500 didorong sentimen positif dari regulasi AS, arus dana ETF, dan optimisme investor terhadap pasar kripto.

Bitcoin Tembus US$65.500, Ini Pemicu Kenaikannya Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Harga Bitcoin (BTC) kembali menembus level US$65.500 pada perdagangan Jumat (24/7/2026), menjadi posisi tertinggi dalam sekitar lima pekan terakhir. Penguatan tersebut dinilai mencerminkan membaiknya sentimen di pasar aset kripto, seiring perkembangan regulasi di Amerika Serikat, berlanjutnya arus dana ke produk spot Bitcoin ETF, serta meningkatnya perhatian investor terhadap agenda ekonomi global.

Kenaikan Bitcoin juga diikuti sejumlah aset kripto berkapitalisasi besar. Ethereum (ETH) diperdagangkan di kisaran US$1.880, XRP sekitar US$1,11, dan Solana (SOL) di level US$75,80.

Chief Marketing Officer INDODAX Aloysia Dian mengatakan pergerakan pasar kripto saat ini semakin dipengaruhi faktor-faktor fundamental, mulai dari kebijakan ekonomi, perkembangan regulasi, hingga partisipasi investor institusi.

“Penguatan yang terjadi tidak hanya terlihat pada Bitcoin, tetapi juga mulai diikuti oleh sejumlah aset kripto berkapitalisasi besar. Hal tersebut menunjukkan bahwa sentimen positif mulai dirasakan oleh pasar secara lebih luas. Namun demikian, investor tetap perlu mencermati berbagai faktor fundamental yang dapat memengaruhi volatilitas pasar ke depan,” ujarnya.

Menurutnya, salah satu sentimen utama yang mendorong optimisme pasar adalah perkembangan pembahasan regulasi aset kripto di Amerika Serikat. Kepastian regulasi dinilai dapat meningkatkan kepercayaan pelaku pasar sekaligus memberikan kepastian hukum bagi industri aset digital.

Dalam beberapa hari terakhir, pembahasan CLARITY Act kembali menunjukkan perkembangan setelah kerangka regulasi tersebut memperoleh persetujuan. Perkembangan itu dipandang sebagai langkah menuju ekosistem aset digital yang lebih jelas dan terstruktur.

Selain regulasi, minat investor institusi terhadap Bitcoin juga masih terjaga. Berdasarkan data SoSoValue, spot Bitcoin ETF di Amerika Serikat membukukan arus dana bersih (net inflow) sekitar US$430 juta dalam dua hari perdagangan pada 20–21 Juli 2026.

Arus dana tersebut menjadi salah satu indikator bahwa permintaan investor terhadap eksposur Bitcoin masih bertahan, meski bukan satu-satunya faktor yang memengaruhi pergerakan harga.

Di sisi lain, pelaku pasar juga mencermati sejumlah agenda ekonomi global yang berpotensi memengaruhi pergerakan aset berisiko. Salah satunya adalah keputusan suku bunga Federal Reserve yang akan datang.

Selain itu, musim laporan keuangan emiten teknologi besar Amerika Serikat, seperti Alphabet, Tesla, dan Intel, juga menjadi perhatian investor. Dalam beberapa waktu terakhir, pergerakan Bitcoin dinilai memiliki korelasi yang cukup kuat dengan saham-saham sektor teknologi sehingga kinerja emiten tersebut berpotensi memengaruhi sentimen pasar kripto.

Baca Juga: Arus Dana ETF Bitcoin Berbalik Positif, Capai Rp1,36 Triliun dalam Sepekan

Baca Juga: Inflasi AS Turun Tajam, Harga Bitcoin dan Ethereum Kompak Menguat

Aloysia menilai kondisi tersebut menunjukkan pasar aset kripto semakin terintegrasi dengan dinamika pasar keuangan global. Karena itu, investor disarankan tidak hanya berfokus pada pergerakan harga jangka pendek, tetapi juga memperhatikan perkembangan fundamental yang memengaruhi pasar.

“Dalam kondisi pasar seperti saat ini, investor perlu memahami bahwa pergerakan aset kripto dipengaruhi oleh banyak faktor yang saling berkaitan. Karena itu, penting untuk tetap mengedepankan prinsip Do Your Own Research (DYOR), memahami profil risiko masing-masing aset, serta berinvestasi sesuai tujuan keuangan jangka panjang,” katanya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Annisa Nurfitri
Editor: Annisa Nurfitri