Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Prabowo Sering Keseleo Lidah: Dari Penggilingan Padi Rp2 Triliun ke Kupas Bawang Rp700 Ribu Sekilo

Prabowo Sering Keseleo Lidah: Dari Penggilingan Padi Rp2 Triliun ke Kupas Bawang Rp700 Ribu Sekilo Kredit Foto: Tangkapan Layar Youtube Sekretariat Presiden
Warta Ekonomi, Jakarta -

Pidato Presiden Prabowo Subianto yang menuai polemik kembali memunculkan pertanyaan mengenai kualitas komunikasi publiknya. Mulai dari klaim pengusaha penggilingan padi yang disebut meraup keuntungan hingga Rp2 triliun per bulan hingga pernyataan mengenai pekerja pengupas bawang dengan upah Rp700 ribu per kilogram, sejumlah ucapannya menjadi perhatian publik.

Cendekiawan Nahdlatul Ulama (NU) Gus Hilmi Firdausi mengatakan dirinya memahami risiko tersebut karena memiliki pengalaman berbicara di berbagai forum. Ia terbiasa berdakwah, mengisi seminar, menjadi dosen tamu, mengikuti diskusi hingga tampil sebagai narasumber di televisi.

Baca Juga: Megawati Kritik Hukum Era Prabowo di HUT RI ke-81: Harus Ditegakkan, Bukan Seperti Sekarang Ini

“Saya ini pendakwah, pengisi seminar, dosen tamu, pengisi acara diskusi juga di TV,” ujar Gus Hilmi, dikutip, Selasa (18/8/2026).

Berdasarkan pengalamannya tersebut, ia mengakui bahwa salah mengucapkan kata atau angka ketika berbicara di depan banyak orang memang dapat terjadi. Tekanan, durasi berbicara, serta banyaknya informasi yang harus disampaikan dapat membuat seseorang keliru mengucapkan sesuatu.

Karena itu, ia tidak menganggap setiap kesalahan bicara sebagai persoalan serius. Menurut Gus Hilmi, apabila kesalahan hanya terjadi sesekali, masyarakat seharusnya tidak serta-merta menganggapnya sebagai sesuatu yang luar biasa.

“Jadi slip tounge sekali dua kali itu hal yang lumrah,” ucapnya.

Namun, penilaian tersebut berubah ketika kesalahan terus muncul dalam berbagai kesempatan. Bagi Gus Hilmi, frekuensi kesalahan menjadi hal penting yang perlu diperhatikan, terlebih ketika seseorang memiliki posisi sebagai figur publik dan informasi yang disampaikan berhubungan dengan kepentingan masyarakat.

Ia pun menekankan bahwa pembicara harus memiliki keberanian untuk mengevaluasi dirinya ketika kesalahan terus berulang.

“Tapi kalau tiap kali bicara di publik selalu terulang, artinya kita selaku pembicara harus introspeksi diri,” tukasnya.

Sebelumnya, Pidato Presiden Prabowo Subianto soal upah pengupas bawang Rp700 ribu per kilogram memicu kehebohan publik di media sosial.

Prabowo diketahui memperkenalkan sosok Susana, buruh harian pengupas bawang dari Kabupaten Bogor, Jawa Barat, yang disebut menerima upah fantastis.

"Hari ini hadir bersama kita, Ibu Susana dari Kabupaten Bogor, dia bekerja sebagai buruh harian. Mengupas bawang dengan upah Rp700 ribu per kilogram," kata Prabowo.

Adapun Kepala Badan Komunikasi Pemerintah Muhammad Qodari mengatakan angka yang tercantum dalam naskah pidato sebenarnya Rp700 per kilogram, bukan Rp700 ribu.

Baca Juga: 50 Buku Sehari Tak Bisa Membuat Prabowo Kalahkan Jokowi: Pidatonya Bisa Lebih Jaga Perasaan Rakyat

Ia menilai salah sebut angka merupakan hal yang manusiawi dan dapat terjadi ketika seseorang berbicara dalam durasi panjang.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar