Kredit Foto: Antara/Fransisco Carolio
Logistik dan Sektor Produktif Jadi Pemicu
Wahyudi mengidentifikasi sejumlah faktor pendorong lonjakan konsumsi. Yang pertama adalah disparitas harga antara BBM subsidi dan nonsubsidi yang masih lebar, sehingga masyarakat melakukan pergeseran penggunaan ke BBM subsidi dan kompensasi negara.
Faktor berikutnya adalah menggeliatnya aktivitas logistik.
"Ini penting untuk dicermati karena di triwulan dua ini kegiatan logistik terus terjadi peningkatan, baik itu untuk ekspor maupun impor, untuk didistribusikan kepada masyarakat di sekitar wilayah tersebut," ujarnya.
Pertumbuhan sektor produktif turut mengerek permintaan. Sektor perdagangan tumbuh 6,39 persen year to date, akomodasi dan makan minuman tumbuh 10,60 persen year to date, sementara pertanian tumbuh 3,8 persen year to date.
Wahyudi juga mengaitkan kenaikan konsumsi dengan implementasi program strategis pemerintah pada 2026 di bawah payung Asta Cita, antara lain koperasi nelayan merah putih, brigade pangan, dan food estate.
Minyak Tanah dan Pertalite Masih Aman
Secara nasional, BPH Migas memprognosakan kebutuhan JBT minyak solar sepanjang 2026 sebesar 20,27 juta kiloliter, dengan realisasi sementara 12,44 juta kiloliter.
Kondisi berbeda terjadi pada dua jenis BBM subsidi lainnya. Untuk JBT minyak tanah, prognosa ditetapkan 0,53 juta kiloliter dengan realisasi 0,33 juta kiloliter. Adapun Jenis BBM Khusus Penugasan (JBKP) Pertalite diprognosakan 29,27 juta kiloliter dengan realisasi 18,23 juta kiloliter.
Baca Juga: Realisasi BBM Subsidi Berpotensi Lampaui Kuota, Solar Diprognosa Jebol 9,4%
Baca Juga: Airlangga Ungkap Pembatasan BBM Subsidi Sasar Jenis Kendaraan
"Untuk minyak tanah masih cukup aman. Posisi Pertalite juga cukup aman," sambungnya.
Menutup paparannya di hadapan Komisi XII, Wahyudi meminta dukungan parlemen agar distribusi BBM subsidi tetap terjaga hingga tutup tahun.
"Mohon dukungannya, semoga nanti sampai dengan akhir tahun 2026 tetap aman dan terkendali," tutupnya.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: