Lalu Lintas Minyak di Selat Hormuz Anjlok 75%, Qatar Turun Tangan Redakan Krisis Iran-AS
Kredit Foto: Google Earth
Volume minyak yang melewati Selat Hormuz anjlok drastis dari 20 juta barel menjadi hanya 5 juta barel per hari. Penurunan tajam ini terjadi di tengah krisis yang belum mereda antara Iran dan Amerika Serikat, menurut data pelacakan kapal terbaru yang dikutip Reuters.
Selat sempit antara Iran dan Oman ini merupakan titik penting bagi lalu lintas minyak global. Kondisi tersebut membuat Perdana Menteri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani akan mengunjungi Teheran pada Kamis (27/8) untuk mengupayakan dimulainya kembali diplomasi.
Kunjungan tersebut berlangsung ketika serangan antara AS dan Iran untuk sementara berhenti. Namun perundingan damai belum dimulai meski perang kedua negara telah memasuki bulan keenam.
Qatar merupakan sekutu AS sekaligus negara tetangga Iran. Negara ini selama ini berperan sebagai jalur komunikasi tidak langsung antara kedua pihak dan turut berperan dalam tercapainya gencatan senjata pada Juni.
Kementerian Luar Negeri Qatar mengatakan Sheikh Mohammed akan membahas cara "meredakan ketegangan dan menciptakan kondisi yang mendukung dialog". Pembicaraan juga akan mencakup kebebasan navigasi di Selat Hormuz serta kebutuhan untuk mengembalikan situasi ke kondisi sebelum perang pada 28 Februari.
Kesepakatan Iran-Oman Diklaim Tercapai, tapi Belum Final
Iran dan Oman telah berunding selama beberapa pekan untuk mengatur lalu lintas kapal di Selat Hormuz. Pada Rabu (26/8), Garda Revolusi Iran mengatakan kedua negara telah mencapai kesepakatan terkait pembagian jalur perairan dan pendapatan.
Namun, pejabat senior Iran mengatakan kepada Reuters bahwa kesepakatan tersebut belum difinalisasi. Kedua pihak masih membahas rinciannya.
"Kesepakatan dengan Oman mengenai Selat Hormuz belum difinalisasi," kata sumber senior Iran tersebut kepada Reuters.
Pernyataan itu bertentangan dengan keterangan Brigadir Jenderal Hossein Mohebbi, juru bicara Garda Revolusi Iran. Ia mengatakan Iran dan Oman telah "mencapai hasil yang dapat diterima oleh kedua pihak" terkait pengendalian selat dan pendapatannya.
Sementara itu, Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi mengatakan pada Selasa (25/8) bahwa kapal komersial menuju Teluk Persia akan melewati perairan Iran. Jalur keluar sebagian melalui perairan Iran dan Oman.
Menurut Gharibabadi, pengaturan tersebut bersifat sementara. Iran dan Oman akan membahas rencana lalu lintas maritim permanen dalam 30 hingga 60 hari.
Kapal militer juga tidak akan diizinkan melintasi selat berdasarkan pengaturan tersebut.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Christian Andy
Editor: Christian Andy
Tag Terkait: