Luhut Ungkap Fakta Pahit! Sebut Era AI Bikin Upah Buruh Murah Tak Lagi Laku Jadi Magnet Investasi
Kredit Foto: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan menilai perkembangan kecerdasan buatan (AI) mulai mengubah peta daya saing ekonomi dan investasi global.
Menurut Luhut, Indonesia tidak bisa lagi mengandalkan upah buruh murah sebagai daya tarik utama untuk mendatangkan investasi. Perkembangan AI membuat faktor penentu lokasi investasi ikut bergeser.
"Upah buruh murah itu sudah tidak menjadi satu alasan saja karena sekarang AI berkembang," kata Luhut saat menghadiri The 13th International Conference on ICT for Smart Society & AI Indonesia Initiative Forum 2026, yang ditayangkan secara daring melalui YouTube, dikutip Senin (31/8/2026).
Luhut mengatakan, jika sebelumnya biaya tenaga kerja menjadi salah satu pertimbangan utama dalam menarik industri manufaktur, kini faktor seperti chip, ketersediaan listrik, pusat data, komputasi, dan talenta digital semakin menentukan.
Lanjutnya, perubahan tersebut membuat Indonesia perlu menggeser strategi pembangunan dari yang semula mengandalkan jumlah tenaga kerja menjadi peningkatan produktivitas.
Menurut Luhut, bonus demografi tidak otomatis menjadi keunggulan ekonomi apabila pertumbuhan jumlah tenaga kerja tidak diikuti dengan peningkatan produktivitas.
Luhut menilai perkembangan AI menjadi salah satu faktor penting yang harus diperhitungkan dalam penyusunan kebijakan ekonomi Indonesia. Ia bahkan meminta tim ekonomi dan AI di DEN mengkaji kembali asumsi pembangunan nasional.
"Kalau kita lihat kenaikan inflasi, suku bunga di Amerika dan juga kita lihat sekarang perkembangan AI, asumsi pembangunan ekonomi kita sudah ditulis ulang," ujarnya.
Dia mengatakan, perubahan akibat AI menunjukkan tantangan ekonomi Indonesia tidak lagi hanya berasal dari siklus ekonomi. Perkembangan teknologi juga menciptakan perubahan struktural terhadap sumber daya saing suatu negara.
Dalam paparannya, Luhut membandingkan kondisi ekonomi lama dengan ekonomi berbasis AI. Pada era sebelumnya, upah buruh murah menjadi salah satu faktor untuk menarik investasi manufaktur.
Namun, perkembangan AI membuat kebutuhan terhadap infrastruktur dan sumber daya teknologi semakin penting.
Luhut menjelaskan rantai nilai AI terdiri atas lima lapisan. Pertama, semikonduktor dan manufaktur. Kedua, energi dan pusat data. Ketiga, komputasi dan cloud. Keempat, model dan data. Kelima, adopsi dan difusi AI.
Menurut dia, Indonesia tidak harus menguasai seluruh rantai nilai tersebut. Pemerintah perlu memilih bagian yang sesuai dengan keunggulan Indonesia dan memiliki nilai ekonomi besar.
"Kita tinggal pilih, gak mungkin kita semua masuk kuat. Chip kita akan susah," kata Luhut.
Salah satu bidang yang dinilai dapat dikembangkan Indonesia adalah pusat data, terutama dengan memanfaatkan sumber energi terbarukan.
Luhut mencontohkan potensi pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di Kalimantan Utara yang mencapai sekitar 8 gigawatt (GW). Potensi tersebut, menurutnya, dapat dimanfaatkan untuk mendukung pengembangan pusat data berbasis energi hijau.
Baca Juga: Nutanix Perkuat Infrastruktur Agentic AI, Dorong Perusahaan Jalankan AI Tanpa Rombak Sistem
Baca Juga: Pemerintah Buka Karpet Merah Investasi AI hingga US$12 Miliar
Baca Juga: Awas!! Ini Bahaya Terlalu Andalkan AI untuk Investasi
Pergeseran sumber daya saing akibat AI terjadi ketika Indonesia juga menghadapi tuntutan untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi di atas 5%.
Luhut mengatakan Indonesia harus mampu tumbuh di atas 5% dalam dua dekade ke depan di tengah berbagai tekanan global.
"Kita harus tumbuh di atas 5% di dua dekade ke depan karena kita juga dihadapkan pada situasi yang tidak menguntungkan," ujarnya.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
Editor: Annisa Nurfitri