Kredit Foto: Twitter/Anies Baswedan
Peta politik menuju Pemilu 2029 kembali menghadirkan kemungkinan yang tak terduga. Salah satunya datang dari wacana duet Gibran Rakabuming Raka dengan Anies Baswedan, dua nama yang selama ini berada dalam spektrum politik berbeda dan pernah berseberangan dalam sejumlah momentum politik.
Kepala Badan Riset PDI Perjuangan (PDIP) Andi Widjajanto menilai peluang tersebut bukan sesuatu yang mustahil. Menurutnya, politik sangat dinamis sehingga hubungan antar tokoh dapat berubah ketika kepentingan dan konfigurasi kekuatan politik ikut bergeser.
“Politik nggak ada yang impossible. Itu juga sesuatu yang harus kita siap kaget,” kata Andi dalam tayangan YouTube Hendri Satrio Official.
Baca Juga: Heboh Ucapan Gibran 'Bukan Saya yang Masak' di Tengah Keracunan MBG, Loyalis Jokowi Buka Suara!
Andi bahkan menyebut kemungkinan konfigurasi yang mempertemukan Gibran dan Anies dapat muncul secara tiba-tiba. Baginya, berbagai skenario politik masih terbuka lebar menjelang pertarungan 2029, termasuk jika kedua tokoh tersebut akhirnya berada dalam satu barisan.
“Ini mungkin kondisi yang bisa tiba-tiba ya, Gibran-Anies. Dan bisa saja Aniesnya mau, namanya politik,” ujar Andi.
Meski begitu, Andi tidak melihat Anies hanya memiliki satu pilihan. Mantan Gubernur DKI Jakarta itu juga dinilai bisa mengambil langkah berbeda dengan memilih menunggu selama lima tahun sebelum kembali maju menggunakan kendaraan politiknya sendiri.
“Mungkin dia bisa bersabar dulu lima tahun, habis itu dia maju sendiri, ya itu yang namanya kalau sekarang Marvel gitu, multiverse. Universe ini, universe ini, universe itu ya, multiverse gitu kan, harus kita siapkan sekarang,” ucapnya.
Baca Juga: Anies: Berapa Korban yang Harus Keracunan MBG sampai Kita Mau Tarik Rem Darurat?
Di tengah berbagai kemungkinan tersebut, Andi turut menyoroti gaya politik Jokowi. Menurutnya, Jokowi merupakan politikus yang terbiasa mempersiapkan sejumlah jalur sekaligus dan tidak terpaku pada satu skenario untuk mencapai tujuan politik.
“Pak Jokowi yang saya pahami selalu tidak pernah punya skenario tunggal. Tidak hanya skenario A. Dia akan punya skenario bahkan lawannya A, atau skenario alternatif dari A,” ungkap Andi.
Pola tersebut, lanjut Andi, memungkinkan Jokowi memiliki sejumlah opsi ketika keadaan politik berubah. Berbagai tim dapat bergerak secara bersamaan dengan tugas yang serupa, kemudian hasil dan kesiapan masing-masing menjadi pertimbangan untuk menentukan jalur yang paling menguntungkan.
Tim yang dinilai paling siap, paling cepat bergerak, serta memiliki peluang terbesar pada akhirnya bisa menjadi pilihan. Karena itu, menurut Andi, menuju Pemilu 2029 bukan tidak mungkin Jokowi menyiapkan beberapa kendaraan politik sekaligus.
Sejumlah jalur pun disebut dapat menjadi bagian dari kalkulasi tersebut, mulai dari PSI, mantan relawan, mantan menteri, hingga kemungkinan kembali membangun kerja sama dengan Presiden Prabowo Subianto.
“Nanti dilihat saja, mana yang peluangnya paling bagus, paling besar, dan risiko politiknya ke Pak Jokowi paling kecil,” imbuh Andi.
Dengan peta politik yang masih sangat cair, Andi melihat duet Gibran-Anies sebagai salah satu kemungkinan dari banyak konfigurasi yang bisa muncul. Apakah skenario tersebut benar-benar terwujud atau justru hanya menjadi salah satu “universe” politik, jawabannya masih harus menunggu arah pergerakan para tokoh menuju 2029.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri
Tag Terkait: