Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Selat Hormuz Memanas Lagi, China Disebut Sudah 'Santai'

Selat Hormuz Memanas Lagi, China Disebut Sudah 'Santai' Kredit Foto: Instagram/Xi Jinping
Warta Ekonomi, Jakarta -

China disebut memiliki kemampuan lebih besar untuk menghadapi krisis energi yang dapat terjadi akibat gangguan di Selat Hormuz.

Posisi tersebut ditopang oleh besarnya cadangan minyak China serta hubungan kerja sama energi yang semakin erat dengan Rusia.

Pernyataan itu disampaikan Igor Sechin, Kepala Eksekutif Rosneft, perusahaan minyak terbesar Rusia. Dikutip dari Al Jazeera, Sechin menilai kombinasi persediaan energi China dan kerja sama dengan Moskow dapat membantu Beijing mengurangi dampak gangguan pasokan minyak melalui jalur strategis di Timur Tengah tersebut.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur penting dalam perdagangan energi dunia. Gangguan terhadap pelayaran di kawasan tersebut dapat memengaruhi distribusi minyak dan gas ke berbagai negara, terutama negara-negara Asia yang sangat bergantung pada impor energi.

Dalam kondisi tersebut, China dinilai memiliki posisi yang relatif lebih kuat karena telah menyiapkan cadangan minyak sekaligus memiliki sumber pasokan alternatif melalui kerja sama energi dengan Rusia.

Cadangan minyak menjadi salah satu faktor yang dapat membantu China menghadapi gangguan pasokan dalam jangka pendek.

Ketika pengiriman minyak melalui Selat Hormuz terganggu, negara yang memiliki persediaan minyak lebih besar memiliki waktu lebih panjang untuk mencari sumber pasokan alternatif.

Kondisi tersebut berbeda dengan negara yang sangat bergantung pada pengiriman minyak secara langsung melalui jalur tersebut. Gangguan pelayaran dapat dengan cepat meningkatkan biaya impor energi dan menimbulkan tekanan terhadap perekonomian.

China merupakan salah satu konsumen energi terbesar di dunia. Karena itu, kemampuan menjaga ketersediaan minyak menjadi bagian penting dari strategi keamanan energi Beijing.

Selain mengandalkan cadangan, China juga memiliki hubungan perdagangan energi yang semakin kuat dengan Rusia.

Pandangan Sechin disampaikan ketika Wakil Perdana Menteri Rusia Alexander Novak mengatakan China diperkirakan menyumbang lebih dari 60 persen ekspor gas Rusia pada akhir dekade ini.

Pernyataan tersebut menunjukkan semakin besarnya peran China dalam pasar energi Rusia.

Baca Juga: Bisa Abaikan AS, Rusia dan China Cari Opsi Berdagang Lewat Sungai

Hubungan energi kedua negara berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir. China menjadi pembeli energi terbesar Rusia setelah Moskow melancarkan invasi ke Ukraina pada Februari 2022 dan negara-negara Barat kemudian menjatuhkan berbagai sanksi terhadap Rusia.

Sanksi tersebut mendorong Rusia mengalihkan sebagian besar perdagangan energinya dari pasar Eropa menuju Asia. China menjadi salah satu tujuan utama bagi minyak dan gas Rusia.

Bagi Moskow, pasar China memberikan kepastian permintaan untuk produk energinya. Sementara bagi Beijing, kerja sama tersebut memberikan sumber pasokan tambahan yang tidak sepenuhnya bergantung pada jalur laut di Timur Tengah.

Dengan demikian, cadangan minyak dan hubungan energi dengan Rusia menjadi dua faktor yang memberikan bantalan bagi China ketika jalur energi global menghadapi tekanan akibat gangguan di Selat Hormuz.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat

Tag Terkait: