Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Prabowo Didesak Sadar: MBG Itu Titik Lemah, Musuh Bisa dengan Mudah Rusak Reputasi hingga Legitimasi

Prabowo Didesak Sadar: MBG Itu Titik Lemah, Musuh Bisa dengan Mudah Rusak Reputasi hingga Legitimasi Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Presiden Prabowo Subianto diminta menyadari besarnya risiko politik yang melekat pada Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Program unggulan tersebut justru dapat menjadi titik lemah pemerintahan apabila persoalan dalam pelaksanaannya tidak dikendalikan secara ketat.

Guru Besar Universitas Airlangga (Unair), Prof Henri Subiakto mengatakan program makan bergizi gratis memiliki cakupan yang sangat luas dan dijalankan oleh banyak pihak. Kondisi tersebut membuat program yang dimaksudkan sebagai kebijakan sosial tersebut sekaligus menjadi salah satu sumber risiko politik bagi Presiden.

Baca Juga: Tim Roy Suryo: BAP Jokowi Itu Hanya Soal Pencemaran Nama Baik, Cuma 5 Pertanyaan Berkaitan Ijazahnya

"Please Prabowo, sadarlah, bahwa makan bergizi gratis itu adalah titik lemah, yang memungkinkan musuh atau siapapun dengan mudah merusak reputasi hingga legitimasi anda," bebernya, dikutip Jumat (11/9/2026).

Henri menilai keterkaitan makan bergizi gratis dengan presiden sudah sangat kuat. Keberlanjutan program maupun kualitas pelaksanaannya berpotensi dinilai publik sebagai bagian dari kepemimpinan Prabowo.

"Secara politik, makan bergizi gratis itu identik dengan kehendak dan kebijakan Prabowo. Terus dan tidaknya program makan bergizi gratis ini tergantung kehendak, kemauan dan pikiran Prabowo," ujar Henri.

Bahkan, menurut Henri, baik buruknya makan bergizi gratis secara keseluruhan juga dapat menjadi cermin kualitas keputusan Presiden.

Risiko tersebut semakin besar karena makan bergizi gratis dijalankan di banyak titik di Indonesia. Henri menyebut terdapat potensi kelemahan yang sangat banyak dalam operasional program tersebut.

"Operasional makan bergizi gratis yang sangat luas dengan potensi ribuan titik kelemahan yang terbentang di seluruh Indonesia menjadi resiko politik yang sangat berbahaya bagi nama baik dan reputasi Presiden Prabowo," ucap dia.

Menurut Henri, satu kesalahan di tingkat pelaksana dapat berkembang menjadi persoalan yang dampaknya jauh lebih luas.

"Ibaratnya Kalau ada dapur teledor atau tidak hati hati dalam menyediakan makan bergizi gratis maka resikonya adalah nama baik Prabowo," sebutnya.

Ia juga mengingatkan adanya kemungkinan pihak lain memanfaatkan celah dalam sistem MBG. Dalam konteks politik yang penuh persaingan, Henri menilai kerentanan tersebut perlu mendapat perhatian serius.

"Belum lagi jika ada pihak ketiga yang mencoba mengambil keuntungan dari kerentanan sistem makan bergizi gratis, lagi lagi resikonya adalah kepercayaan rakyat kepada Pemerintah Prabowo," kata Henri.

Kasus keracunan makan bergizi gratis di sejumlah daerah menjadi salah satu persoalan yang menurut Henri memperlihatkan kerentanan tersebut. Ia menyebut program dengan skala nasional membutuhkan kontrol yang sangat ketat agar kesalahan di tingkat bawah tidak berkembang menjadi krisis kepercayaan.

Henri juga mengangkat kemungkinan sabotase sebagai salah satu risiko, meski dugaan tersebut belum disertai bukti yang menunjukkan adanya operasi terkoordinasi untuk menyerang Presiden.

"Tidak mungkin ada upaya kesengajaan, sabotase untuk menghancurkan presiden lewat kasus kasus keracunan makan bergizi gratis yang akibatnya nampak dramatis hingga mengikis kepercayaan publik padanya?," cetusnya.

Ia mengingatkan Prabowo agar tidak hanya melihat makan bergizi gratis dari sisi popularitas atau keberhasilan program. Risiko politik dari kebijakan tersebut juga perlu diperhitungkan.

"MBG memang tidak satu satunya masalah, namun itu merupakan salah satu sebab yang paling terbuka," sesalnya.

Henri bahkan menilai semakin keras pemerintah mempertahankan dan membanggakan makan bergizi gratis, semakin besar pula konsekuensi politik apabila terjadi persoalan serius.

"Dimana semakin gigih anda membenarkan dan membanggakan makan bergizi gratis , maka bisa membuat semakin rawan posisi politik pak Prabowo sebagai Presiden dalam kondisi Indonesia seperti sekarang ini dan ke depan," kuncinya.

Baca Juga: Ade Darmawan: Kalau Ijazah Jokowi Palsu, Kenapa Tak Laporkan Teman Seangkatannya Juga?

Peringatan tersebut pada intinya menempatkan makan bergizi gratis sebagai pedang bermata dua: keberhasilan dapat menjadi modal politik pemerintah, tetapi persoalan yang berulang dan tidak tertangani juga berpotensi menjadi beban bagi reputasi Presiden.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar