Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Trump Berubah Sikap soal Perang Iran: Bisa Berakhir Sebelum 3 November

Trump Berubah Sikap soal Perang Iran: Bisa Berakhir Sebelum 3 November Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali mengungkap kemungkinan perang melawan Iran berakhir sebelum pemilu sela digelar pada 3 November mendatang. Pernyataan tersebut muncul sehari setelah Trump memprediksi perang dengan Teheran akan berakhir tepat setelah pemilu sela.

"Saya tidak tahu apakah mereka (Iran-red) akan mampu bertahan. Namun, masalah ini akan selesai setelah pemilu. Atau mungkin lebih cepat," kata Trump dalam wawancara melalui telepon dengan media NewsNation, seperti dilansir Middle East Monitor, Jumat (11/9/2026).

Trump mengaitkan pernyataannya dengan tekanan ekonomi AS yang semakin meningkat terhadap Iran. Dia sebelumnya juga berulang kali menyatakan keinginannya agar konflik tersebut dapat segera diselesaikan.

Sehari sebelumnya, Rabu (9/9), Trump mengatakan perang melawan Iran akan "berakhir segera" setelah pemilu sela digelar. "Saya rasa perang akan berakhir segera setelah pemilu karena mereka tidak bisa bertahan lebih lama lagi," ujarnya kepada wartawan sebelum bertolak ke Dallas, Texas.

Pernyataan Trump tersebut berbeda dengan laporan Wall Street Journal (WSJ) yang menyebut para penasihat senior Gedung Putih secara pribadi telah memperingatkan bahwa perang bisa terus berlangsung hingga sisa masa jabatan Trump. Dengan demikian, klaim Trump mengenai berakhirnya perang dalam waktu dekat masih berhadapan dengan kekhawatiran internal pemerintahannya sendiri.

Perang melawan Iran yang dimulai pada akhir Februari lalu kini telah memasuki bulan ketujuh tanpa tanda-tanda jelas akan berakhir. Sedikitnya 18 personel militer AS dilaporkan tewas akibat serangan pembalasan Iran di kawasan Timur Tengah.

Konflik berkepanjangan tersebut juga memicu kekhawatiran terhadap ketersediaan sumber daya militer AS dan gangguan terhadap pasar energi global. Dampaknya turut terasa pada harga bahan bakar di Amerika Serikat.

Baca Juga: MBS Dua Kali Telepon Trump, Desak Serang Houthi di Yaman tapi Ditolak

Menurut American Automobile Association (AAA), harga bensin rata-rata di AS mencapai US$4,22 per galon pada Rabu (9/9). Angka tersebut meningkat dari US$4,01 per galon sebulan sebelumnya dan US$3,19 per galon pada periode yang sama tahun lalu.

Trump terus menyatakan keinginannya mencapai penyelesaian cepat sembari mempertahankan kampanye ekonomi yang lebih luas terhadap Iran. Menteri Keuangan AS Scott Bessent menggambarkan strategi yang dijuluki "Operation Economic Outcast" tersebut sebagai alternatif terhadap operasi tempur berskala besar.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Christian Andy
Editor: Christian Andy

Tag Terkait: