ModalGadai Bikin Kejutan: Baru 6 Bulan Berdiri, Koperasi Pegadaian Digital Pertama di Indonesia Ini Tembus Pembiayaan Rp8,44 Miliar
Kredit Foto: Istimewa
Sebuah rumah bisa menjadi tempat tinggal sekaligus menyimpan nilai ekonomi. Kendaraan membantu seseorang bekerja, emas menjaga simpanan keluarga, sementara ponsel dan laptop mendukung aktivitas sehari-hari. Ketika kebutuhan dana muncul, pemilik barang berharga membutuhkan pilihan yang memungkinkan mereka tetap merencanakan masa depan asetnya. Dari kebutuhan itulah layanan pegadaian mendapat peran penting. Namun, kesempatan yang lebih menarik muncul ketika aktivitas pembiayaan juga memberikan ruang kepada anggota untuk menjadi pemilik usaha yang mengelolanya.
Sejak April 2026, ModalGadai mengembangkan usaha melalui ekosistem closed-loop yang kini memiliki 213 anggota sebagai pemilik koperasi. Sepanjang April–September 2026, kegiatan usaha menghasilkan portofolio kumulatif 120 fasilitas gadai senilai Rp8,44 miliar. Mengusung visi sebagai koperasi pegadaian digital pertama di Indonesia, koperasi mempertemukan pemilik aset yang membutuhkan pembiayaan dengan anggota yang ingin berpartisipasi dalam kegiatan pendanaan.
Portofolio pada masa awal itu dibentuk oleh 4 produk gadai. Gadai Properti mencakup 8 rumah dan 3 ruko senilai Rp5,72 miliar; Gadai Kendaraan mencakup 38 mobil dan 9 sepeda motor senilai Rp2,27 miliar; Gadai Emas mencakup 7 logam mulia dan 10 perhiasan senilai Rp340,03 juta; dan Gadai Gadget mencakup 37 ponsel serta 8 laptop senilai Rp105,09 juta.
Komposisi itu memperlihatkan kebutuhan modal dengan skala berbeda. Properti dapat mendukung rencana usaha bernilai besar, sementara kendaraan, emas, dan gadget membuka pilihan bagi kebutuhan dana yang lebih beragam. Nilai pencairan mengikuti karakter serta hasil taksiran masing-masing barang, membantu anggota mengukur kebutuhan dan merencanakan penyelesaian kewajibannya.
Pendiri sekaligus Ketua KMP ModalGadai, Muhammad Reza Alkhawarismi, melihat peluang ketika kebutuhan pemilik aset bertemu dengan partisipasi dana anggota lainnya.
“Yang menarik dari model ini adalah kebutuhan anggota bisa saling bertemu. Di satu sisi ada orang yang memerlukan pembiayaan untuk menangkap kesempatan usaha atau memenuhi kebutuhan penting. Di sisi lain ada anggota yang ingin dananya ikut bekerja melalui kegiatan koperasi. Tugas kami mempertemukan keduanya dengan cara yang jelas dan didukung agunan. Bagi saya, keberhasilan bukan hanya ketika dana berhasil dicairkan, tetapi juga ketika anggota punya ruang bergerak dan kegiatan koperasi terus hidup. Jadi setiap penempatan dana mempunyai tujuan yang dapat dipahami, sementara setiap fasilitas gadai menjadi bagian dari perputaran ekonomi di lingkungan para pemiliknya sendiri,” kata Reza.
Langkah tersebut dimulai melalui soft opening kantor pusat Kota Wisata, Kabupaten Bogor, yang menangani 58 fasilitas senilai Rp5,06 miliar; cabang Grand Wisata, Kabupaten Bekasi, dengan 30 fasilitas senilai Rp1,83 miliar; serta cabang CitraGrand, Kota Semarang, dengan 32 fasilitas senilai Rp1,55 miliar. Bersamaan dengan pembukaan awal 3 lokasi, ModalGadai menggelar soft launching website www.modalgadai.com. Di halaman Gadai, anggota memilih produk, akad, dan tenor, lalu mencoba simulasi: Gadai Properti hingga 55% dari taksiran dengan jasa 7% per bulan; Gadai Kendaraan hingga 60% dengan jasa 6%; Gadai Emas hingga 80% dengan jasa 1,5%; serta Gadai Gadget hingga 60% dengan jasa 6%. Untuk melanjutkan, anggota masuk ke akun dan mengirim pengajuan berikut dokumen pendukung.
Pengajuan kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan agunan. Kendaraan, emas, dan gadget dapat dijemput sesuai ketersediaan layanan serta kesepakatan jadwal atau diantar ke cabang, sementara rumah dan ruko menjalani survei lokasi dan pemeriksaan dokumen. Setelah fasilitas disetujui, peluang pendanaannya muncul pada halaman Pendanaan di website. Anggota pendana dapat meninjau kebutuhan dana, agunan, tenor, dan progresnya, lalu memilih fasilitas serta nominal penempatan melalui akun sebelum menyelesaikan pembayaran dan konfirmasi.
Ketika fasilitas mendapatkan pendanaan dan pembiayaan dicairkan, layanan berlanjut sampai penyelesaian kewajiban. Penggadai dapat merencanakan pembayaran dan penebusan barang berdasarkan waktu yang disepakati, sedangkan pendana mengikuti perkembangan fasilitas yang didukungnya. Dengan demikian, dana yang ditempatkan berhubungan langsung dengan kebutuhan pembiayaan anggota, sementara kegiatan jasa yang muncul menjadi bagian dari pendapatan usaha koperasi.
Kegiatan pembiayaan itu membentuk tagihan jasa kontraktual Rp1,65 miliar dan administrasi Rp101,71 juta, sehingga keseluruhannya mencapai Rp1,75 miliar. Di dalamnya, Gadai Properti berkontribusi Rp1,48 miliar, Gadai Kendaraan Rp241,06 juta, Gadai Emas Rp16,20 juta, dan Gadai Gadget Rp10,35 juta. Nilai tersebut merupakan tagihan atas layanan, bukan pokok dana yang dicairkan kepada anggota. Pembedaan ini memudahkan untuk memahami sumber penerimaan sebelum melihat hasil ekonomi koperasi.
Aktivitas tersebut menghasilkan perhitungan Sisa Hasil Usaha (SHU) Rp324,78 juta, dengan alokasi Rp91,21 juta bagi kelompok Strategis, Rp45,60 juta bagi Operator Usaha, dan Rp187,96 juta bagi Partisipan. Pembagian kepada anggota mengikuti ketentuan serta pengesahan koperasi. Dengan begitu, manfaat ekonomi berkaitan dengan peran anggota sebagai pemilik sekaligus dengan perkembangan usaha yang mereka dukung.
Di balik pembagian itu terdapat 3 anggota Strategis, 3 Operator Usaha, dan 207 Partisipan. Mereka memperkuat koperasi melalui simpanan dengan fungsi yang berbeda: Simpanan Pokok sebagai modal awal keanggotaan, Simpanan Wajib untuk penguatan modal berkala, dan Kontribusi Keanggotaan untuk mendukung pengembangan usaha. Simpanan Sukarela memberi ruang tambahan dana secara fleksibel, termasuk untuk berpartisipasi pada fasilitas gadai yang dipilih. Masing-masing memiliki tujuan tersendiri dalam ekosistem milik anggota.
Dari perputaran dana itu, Reza melihat SHU bukan hanya hasil periode berjalan, melainkan juga bekal bagi kesempatan ekonomi selanjutnya.
“SHU Rp324,78 juta membuat kami melihat perjalanan usaha dari sisi yang lebih luas. Anggota tentu ingin tahu apa hasil dari kegiatan yang mereka bangun bersama, dan angka itu menjadi bahan untuk dibahas melalui mekanisme koperasi. Saya juga ingin manfaat hari ini ikut membantu koperasi melayani kebutuhan berikutnya. Karena itu, perhatian kami tidak hanya pada hasil yang dibagikan sesuai ketentuan, tetapi juga pada pelayanan yang semakin baik dan kesempatan usaha yang dapat terus tumbuh. Bagi saya, koperasi yang maju adalah koperasi yang mampu membuat hasil kerja bersama menjadi kekuatan untuk melangkah lagi, bukan berhenti pada satu periode,” ujar Reza.
Selain pilihan pendanaan fasilitas melalui Simpanan Sukarela, terdapat Simpanan Modal Anggota Investasi (SMAI) dengan nilai Rp100 juta per slot, imbal hasil tetap 8% per tahun, dan jangka waktu 12 bulan. Program ini telah mencapai 15 slot dengan penempatan Rp1,5 miliar. Dari pembiayaan yang didukung dana SMAI, kegiatan gadai menghasilkan jasa Rp416,35 juta, memperlihatkan kaitan antara partisipasi modal dan aktivitas usaha koperasi.
Keberlanjutan kegiatan juga terlihat dari 80 peminjam unik dan 30 peminjam berulang. Kebutuhan dana dapat datang kembali pada waktu berbeda, sehingga koperasi mempunyai kesempatan melayani anggota yang sudah mengenal produknya. Pola tersebut membantu ModalGadai membaca kebutuhan berulang dan menyiapkan kapasitas pembiayaan sesuai aktivitas komunitas, sekaligus memperkuat hubungan ekonomi yang sudah terbentuk.
Keluasan kebutuhan anggota turut terlihat dari pilihan akadnya. Sebanyak 61 fasilitas menggunakan akad syariah dengan pembiayaan Rp4,38 miliar, sedangkan 59 fasilitas konvensional senilai Rp4,06 miliar. Dalam pegadaian syariah, rahn berkaitan dengan barang jaminan, dengan akad pendukung seperti qardh atau ijarah menurut bentuk transaksi. Pilihan tersebut melengkapi keragaman produk dan memberi anggota ruang menentukan pendekatan yang sesuai dengan preferensinya.
Perkembangan pasar nasional ikut memperluas peluang ekonomi tersebut. OJK mencatat pembiayaan industri pegadaian mencapai Rp156,61 triliun pada Agustus 2026, meningkat 44,60% secara tahunan. Pada sektor pembiayaan syariah yang lebih luas, pertumbuhannya mencapai 9,27%. Pergerakan pasar ini membuka kesempatan bagi koperasi untuk terus mempertemukan pembiayaan berbasis agunan dengan partisipasi dana komunitas.
Di tengah peluang pertumbuhan tersebut, Sekretaris KMP ModalGadai, Ronaldo Victor Sianipar, menyoroti pentingnya informasi yang sesuai dengan kebutuhan setiap anggota pendana.
“Ketika seseorang ikut menjadi pendana, pertanyaannya biasanya sederhana: dana saya mendukung fasilitas yang mana, bagaimana perkembangannya, dan kapan tahap berikutnya? Kami ingin informasi seperti itu mudah ditemukan dan mudah dimengerti. Karena tujuan setiap anggota berbeda, penjelasannya juga perlu sesuai dengan jenis partisipasi mereka, bukan dicampur menjadi satu angka besar. Saat ada pembaruan pendanaan atau hasil usaha, anggota sebaiknya bisa langsung memahami apa artinya bagi mereka. Bagi saya, komunikasi yang baik bukan sekadar menyampaikan laporan, tetapi membantu orang mengambil keputusan dengan tenang dan merasa dekat dengan kegiatan koperasi yang ikut mereka bangun,” jelas Ronaldo.
Sebagai kelanjutan layanan digital tersebut, ModalGadai akan meluncurkan aplikasi mobile saat grand launching. Aplikasi ini direncanakan tersedia di Google Play Store dan Apple App Store agar penggadai maupun pendana kelak mempunyai akses yang semakin praktis melalui ponsel.
Dengan semangat “Modal Cepat · Gadai Tepat”, ModalGadai ingin membangun siklus yang sederhana: aset membantu kebutuhan pembiayaan, partisipasi dana mendorong layanan, dan hasil kegiatan usaha kembali memperkuat manfaat ekonomi bagi para pemilik koperasi.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Editor: Redaksi
Tag Terkait: