Kredit Foto: Antara/Hafidz Mubarak A
Pasar modal Indonesia bersiap menghadapi rebalancing indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang dijadwalkan diumumkan pada 10 Februari 2026 dan efektif berlaku mulai 1 Maret 2026.
Isu rebalancing MSCI relevan karena perubahan konstituen indeks biasanya diikuti penyesuaian portofolio investor institusi global. Saham yang masuk indeks berpeluang mencatatkan aliran dana asing, sementara emiten yang terdepak berisiko menghadapi tekanan jual.
Dalam riset terbarunya, Samuel Sekuritas Indonesia mengidentifikasi sejumlah saham yang masuk radar menjelang rebalancing MSCI Februari 2026. Penilaian tersebut didasarkan pada kriteria utama MSCI, meliputi kapitalisasi pasar, tingkat free float, serta likuiditas perdagangan.
Baca Juga: BEI Minta Standar MSCI Tak Diskriminatif ke Indonesia
“Dari hasil riset kami, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) muncul sebagai salah satu kandidat terkuat untuk masuk ke MSCI Indonesia Global Standard,” tulis Samuel Sekuritas dalam kajiannya, dikutip Rabu (14/1/2026).
BUMI tercatat memiliki kapitalisasi pasar sekitar USD 10,3 miliar dengan free float sebesar 28,3%. Likuiditas saham ini dinilai solid, tercermin dari rata-rata nilai transaksi harian selama satu tahun terakhir yang mencapai USD 36,7 juta. Dengan profil tersebut, Samuel Sekuritas memperkirakan potensi aliran dana asing ke BUMI berada di kisaran USD 180–300 juta apabila resmi masuk indeks MSCI Indonesia Global Standard.
Selain BUMI, PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) juga masuk dalam daftar kandidat MSCI Indonesia Global Standard. Emiten properti ini memiliki kapitalisasi pasar sekitar USD 13,3 miliar dengan tingkat free float sebesar 15,9%. Meski likuiditas perdagangan PANI relatif lebih rendah dibandingkan BUMI, Samuel Sekuritas menilai skala kapitalisasi pasar dan struktur kepemilikan sahamnya tetap menjadikan PANI sebagai kandidat signifikan, dengan potensi foreign inflow di kisaran USD 180–300 juta.
Di luar indeks Global Standard, perhatian pasar turut mengarah pada potensi perubahan komposisi MSCI Indonesia Small Cap. Sejumlah saham seperti DEWA, ISAT, ADMR, COIN, BIPI, BUVA, TINS, BULL, dan SSIA dinilai telah memenuhi kriteria MSCI dari sisi ukuran pasar, free float, dan likuiditas perdagangan. Masuknya saham-saham tersebut berpotensi meningkatkan visibilitas emiten di mata investor global, meskipun estimasi aliran dana asingnya lebih terbatas dibandingkan indeks Global Standard.
Baca Juga: Spekulasi Suku Bunga AS, Buat Saham Emiten Emas Pesta Pora
Namun, rebalancing MSCI tidak hanya menghadirkan peluang, tetapi juga risiko. Samuel Sekuritas mengidentifikasi PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) sebagai salah satu saham yang berpotensi terdampak di kategori MSCI Indonesia Global Standard. Sementara itu, saham-saham seperti AALI, MIDI, ACES, dan CLEO disebut berpeluang keluar dari MSCI Indonesia Small Cap.
“Potensi arus keluar dana asing dari saham-saham tersebut menjadi faktor yang perlu dicermati investor menjelang pengumuman dan implementasi rebalancing indeks MSCI,” tulis Samuel Sekuritas.
Dengan tenggat waktu pengumuman yang semakin dekat, rebalancing MSCI diperkirakan tetap menjadi salah satu sentimen utama yang memengaruhi dinamika pasar saham domestik pada awal 2026, seiring penyesuaian strategi investor global terhadap perubahan komposisi indeks.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Uswah Hasanah
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: