Kredit Foto: Reuters/WANA/Iranian Army
Harga minyak dunia melanjutkan penguatannya pada Kamis (29/1). Ia didorong oleh kekhawatiran investor soal potensi ganguan pasokan akibat ancaman aksi militer dari Amerika Serikat ke Iran.
Dilansir dari Reuters, Minyak Brent naik 0,6% ke US$68,80. Sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat 0,7% menjadi US$63,65.
Baca Juga: Blak-blakan di Sidang Kasus Minyak, Ahok: Periksa Tuh Presiden dan BUMN
Bank Investasi Citi menilai harga minyak berpotensi bertahan di level tinggi di tengah meningkatnya risiko geopolitik. Hal ini terjadi meskipun pasar memasuki awal tahun dengan ekspektasi kelebihan pasokan yang besar.
“Eskalasi geopolitik lebih lanjut dapat mendorong harga menuju target kami untuk tiga bulan ini di US$70,” kata Citi.
Citi mencatat sejumlah faktor yang menopang harga minyak, termasuk gangguan produksi di Kazakhstan. Pasar juga menyoroti cuaca dingin ekstrem di Amerika Serikat.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump baru-baru ini mengancam Iran. Ia mendesak negara itu untuk segera bernegosiasi terkait senjata nuklir, dengan peringatan bahwa serangan berikutnya akan jauh lebih keras jika tidak ada kesepakatan. Iran merespons dengan ancaman akan melakukan serangan balasan terhadap Amerika Serikat.
Citi memperkirakan risiko serangan itu telah menambah premi geopolitik harga minyak sekitar US$3 - US$4. Premi tersebut berpotensi meningkat jika ketegangan terus memanas.
“Skenario harga bullish kami dan target jangka pendek US$70. Itu mencerminkan kemungkinan eskalasi tersebut jika benar-benar terjadi,” tulis Citi.
Baca Juga: BPH Migas Beri Sanksi 329 Penyalur BBM Nakal Selama 2025
Citi menyoroti bahwa pembelian minyak oleh China. Bank tersebut memperkirakan penambahan stok minyak mentah dari negara itu rata-rata mencapai sekitar 0,7 juta barel per hari sepanjang 2025.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar