Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Aset Ini Bisa jadi Pilihan untuk Proteksi Tatkala Rupiah Fluktuatif

        Aset Ini Bisa jadi Pilihan untuk Proteksi Tatkala Rupiah Fluktuatif Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Industri asuransi jiwa Indonesia diproyeksikan tetap memiliki prospek positif pada 2026. Menurut Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI), total pendapatan premi industri mencapai Rp 133,22 triliun hingga kuartal III-2025. Sementara jumlah orang yang tertanggung mencapai lebih dari 151 juta jiwa, tumbuh sekitar 12,8 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

        Bagi masyarakat, di tengah kondisi pasar dan volatilitas ekonomi global, masalah tak hanya soal memiliki polis. Tantangan yang sering terlupakan adalah nilai riil manfaat proteksi di masa depan. Santunan yang diterima keluarga ketika risiko terjadi harus bisa memenuhi kebutuhan yang kadang tak lagi sesuai dengan asumsi awal karena inflasi dan perubahan nilai tukar.

        Pengamat Investasi Universitas Atma Jaya (UAJ) Yogyakarta, Sri Susilo menjelaskan polis asuransi dalam USD dapat menjadi pilihan masyarakat untuk memberikan perlindungan kekayaan dari fluktuasi rupiah dan cocok sebagai pilihan alternatif investasi.

        Baca Juga: Bos BI Blak-blakan Kerja Keras Bank Sentral Jaga Rupiah

        “Ke depan polis asuransi dwigguna prospektif dan sangat baik. Produk polis tersebut dapat sebagai pelindung (hedging) terhadap depresiasi rupiah. Disamping itu memberikan imbal kompetitif dan memfasilitasi kebutuhan masyarakat terhadap dolar AS dan mata uang kuat (hard currencies) lainnya,” ujarnya yang dikutip di Jakarta, Kamis (29/1/2026).

        Dalam perencanaan keuangan jangka panjang, mata uang polis menjadi faktor penting. Polis yang sepenuhnya dalam rupiah menghadapi risiko penurunan daya beli jika terjadi pelemahan nilai tukar terhadap mata uang global seperti Dolar Amerika Serikat (USD). USD merupakan mata uang yang sering dijadikan acuan dalam biaya pendidikan luar negeri, perawatan kesehatan internasional, dan kebutuhan global lainnya.

        Seperti diketahui, sejak akhir 2025 hingga pertengahan Januari 2026, mata uang rupiah mengalami pelemahan signifikan terhadap USD. Pada Desember 2025, rupiah bercokol di kisaran Rp 16.645, dan pada pertengahan Januari 2026, terus melemah menyentuh Rp 16.877 per USD. Hal itu dipicu oleh penguatan dollar terhadap mata uang regional, serta kebutuhan dollar di dalam negeri untuk membiayai impor dan membayar utang.

        Pergerakan kurs rupiah terhadap USD yang fluktuatif dapat membuat santunan dalam rupiah kurang efektif untuk kebutuhan yang tergantung pada mata uang asing. Dengan demikian, perlindungan dalam USD dipandang oleh sebagian perencana keuangan sebagai salah satu strategi untuk menjaga daya beli manfaat proteksi di masa depan.

        USD selama ini dikenal sebagai salah satu mata uang cadangan global yang relatif stabil dalam konteks jangka panjang. Dalam situasi gejolak pasar, banyak instrumen keuangan global dipandang dalam USD karena perannya yang dominan di pasar internasional.

        Baca Juga: Rupiah Hampir Sentuh Rp17 Ribu per Dolar AS, Purbaya Yakin Tak Picu Krisis Ekonomi, Kenapa?

        Kebutuhan akan proteksi berbasis mata uang asing juga sudah mulai direspons industri asuransi. Salah satu contohnya adalah Mandiri Wealth Signature USD dari AXA Mandiri, sebuah produk asuransi dwiguna yang mengombinasikan perlindungan jiwa dengan nilai tunai dalam denominasi Dolar AS. Produk seperti ini dirancang untuk memberikan santunan risiko yang selaras dengan dinamika ekonomi global.

        Dalam konteks asuransi dwiguna—yang menggabungkan proteksi jiwa dan tabungan jangka panjang—menempatkan nilai tunai dan manfaat dalam USD dapat membantu menjaga nilai nyata pertanggungan ketika risiko tersebut terjadi di masa yang akan datang. Hal ini khususnya penting bagi keluarga yang merencanakan biaya besar yang cenderung berpatokan pada USD, seperti pendidikan luar negeri atau layanan medis spesialis global.

        Strategi diversifikasi dalam perencanaan keuangan bukan hanya berlaku pada investasi, tetapi juga pada proteksi. Menempatkan proteksi dalam mata uang asing seperti USD bukan dimaksudkan sebagai spekulasi, tetapi sebagai salah satu cara mengurangi konsentrasi risiko yang sepenuhnya tergantung pada satu mata uang saja.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Fajar Sulaiman
        Editor: Fajar Sulaiman

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: