Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Serangan AS-Israel ke Iran Picu Volatilitas Pasar dan Tekanan Rupiah

        Serangan AS-Israel ke Iran Picu Volatilitas Pasar dan Tekanan Rupiah Kredit Foto: Antara/Muhammad Adimaja
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Lonjakan harga minyak dan emas serta tekanan terhadap nilai tukar rupiah mewarnai respons pasar global dan domestik setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan militer terhadap Iran pada Sabtu (1/3/2026). Eskalasi konflik meningkatkan volatilitas pasar keuangan, seiring kekhawatiran gangguan pasokan energi dan risiko geopolitik yang meluas.

        Data pasar menunjukkan harga minyak mentah Brent futures naik 2,32 persen menjadi USD72,48 per barel dari penutupan sebelumnya USD70,84. Harga emas futures (GCJ6) menguat 1,40 persen ke level USD5.267,2 per troy ons dari USD5.194,2. Di pasar kripto, harga Bitcoin sempat turun 3,48 persen ke level USD63.245,13 usai pengumuman serangan, sebelum berbalik naik ke USD67.493,34, yang menjadi level tertinggi dalam 24 jam terakhir saat laporan disusun.

        Riset PT Mega Capital Sekuritas bertajuk Macro Update: Serangan AS–Israel terhadap Iran tertanggal 1 Maret 2026 menyebut konflik tersebut meningkatkan volatilitas pasar keuangan global.

        “Pergerakan harga bitcoin menunjukkan pelaku pasar optimis terhadap hasil serangan AS-Israel terhadap Iran, dengan skenario perang tidak akan berlangsung lama dan rezim Iran tumbang dalam beberapa minggu, bila tidak beberapa hari ke depan," kata Macro & Fixed Income Strategist MCS Research, Lionel Priyadi, Jakarta, Minggu (1/3/2026). 

        Tekanan global tersebut diperkirakan menjalar ke pasar keuangan domestik. Lionel menyebut nilai tukar rupiah berpotensi tertekan di tengah ketidakpastian geopolitik dan pergerakan modal asing. “Rupiah kemungkinan tertekan di rentang Rp16.800-17.000 per USD diikuti intervensi Bank Indonesia untuk menjaga Rupiah lebih rendah dari Rp17.000 per USD,” ujarnya.

        Dari pasar obligasi, imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun diperkirakan bergerak terbatas. “Yield 10Y SUN bergerak di rentang 6,45-6,55 persen dengan intervensi Bank Indonesia di rentang tenor 10Y hingga 20Y membentuk flat yield curve pada tenor menengah dan panjang,” jelas Lionel.

        Sementara itu, pasar saham berpotensi terkoreksi seiring meningkatnya aversi risiko global. “IHSG secara keseluruhan berpotensi terkoreksi, tetapi kami optimis terhadap prospek saham komoditas, di antaranya emas, minyak & gas, CPO, dan pertambangan mineral,” ujarnya.

        MCS juga menilai respons kebijakan moneter akan tetap bersifat reaktif terhadap pergerakan arus modal asing. “Bank Indonesia berpotensi menjaga money market rate SRBI 12-bulan di rentang 5,15-5,25 persen yang bersifat reaktif terhadap foreign capital flow,” kata Lionel.

        Baca Juga: Perang Israel-Iran Pecah, Emas Diproyeksi Cetak Rekor Baru

        Baca Juga: Pasar Global Libur, Kripto Jadi Sasaran Trader Lindungi Aset di Tengah Perang AS-Iran

        Baca Juga: Iran Tutup Selat Hormuz, Biaya Logistik Nasional Bisa hingga 12%

        Tekanan pasar tersebut terjadi seiring eskalasi militer di Timur Tengah. Konflik bermula ketika AS dan Israel meluncurkan sekitar 900 serangan militer terhadap Iran pada Sabtu sekitar pukul 14.00 WIB. Iran membalas dengan 200-300 serangan yang menyasar wilayah Israel, pangkalan militer AS di sejumlah negara Arab Teluk, serta infrastruktur sipil, termasuk Bandara Dubai. Iran juga menyatakan menutup Selat Hormuz.

        Adapun, jumlah korban tewas dari pihak Iran mencapai 201 orang dengan 747 orang terluka. Korban sipil juga dilaporkan di sejumlah negara Arab Teluk serta satu orang di Israel. Dalam perkembangan terbaru, pemerintah AS dan Israel mengklaim telah menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei dalam operasi dekapitasi, meski klaim tersebut dibantah oleh pihak Iran. Sejumlah pejabat tinggi Iran lainnya juga dinyatakan atau diperkirakan tewas, termasuk pejabat pertahanan, intelijen, serta riset dan pengembangan senjata nuklir.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: