Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Mojtaba Khamenei Jadi Pemimpin Tertinggi Iran! Putin Kirim Selamat, Trump Kirim Ancaman

        Mojtaba Khamenei Jadi Pemimpin Tertinggi Iran! Putin Kirim Selamat, Trump Kirim Ancaman Kredit Foto: Reuters/Sputnik/Mikhail Klimentyev
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Mojtaba Khamenei resmi diumumkan sebagai Pemimpin Tertinggi ketiga Iran tepat setelah tengah malam waktu Teheran pada Minggu (8/3/2026) dan dalam hitungan jam, dua respons dari dua kekuatan besar dunia tiba hampir bersamaan.

        Dari Moskow datang telegram hangat penuh solidaritas, dari Washington datang ancaman terbuka.

        "Jika dia tidak mendapat persetujuan dari kami, dia tidak akan bertahan lama," kata Trump kepada ABC News.

        Putin, sebaliknya, menyatakan dukungan tak tergoyahkan Rusia dan menyebut Rusia telah dan akan tetap menjadi mitra yang dapat diandalkan bagi Republik Islam. 

        Mojtaba Khamenei, 56 tahun, adalah sosok yang selama puluhan tahun bergerak di balik layar kekuasaan Iran tidak pernah mencalonkan diri dalam pemilu, tidak pernah berpidato publik, dan banyak rakyat Iran yang bahkan belum pernah mendengar suaranya. Tapi ia memiliki satu aset yang jauh lebih kuat dari popularitas yakni loyalitas penuh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).

        Komandan-komandan IRGC menekan anggota Majelis Ahli untuk memilih Mojtaba melalui kontak berulang dan tekanan psikologis serta politik. Sidang pertama digelar secara online pada 3 Maret, mereka yang menyampaikan argumen menentang Mojtaba diberi waktu terbatas untuk bicara, diskusi dipotong, dan pemungutan suara langsung digelar.

        Yang lebih ironis, melansir Jerusalem Post, ayahnya sendiri Ali Khamenei dilaporkan secara pribadi menentang pengangkatan putranya, khawatir hal itu akan membawa struktur mirip monarki kembali ke sistem Islam yang didirikan justru atas penolakan terhadap dinasti Pahlavi.

        Mojtaba adalah anak kedua Ali Khamenei yang bergabung dengan IRGC sejak usia 17 tahun, bertempur dalam Perang Iran-Irak, dan selama bertahun-tahun membangun jaringan loyalitas di dalam aparatus keamanan dan intelijen Iran.

        Ia juga diduga mendalangi kemenangan Mahmoud Ahmadinejad pada pemilu 2005, dan secara pribadi mengawasi bagaimana IRGC menghancurkan gelombang protes 2009.

        Para analis memperkirakan Mojtaba akan lebih keras dari ayahnya ia memiliki hubungan dekat dengan sejumlah ulama paling ideologis yang berada di garis terdepan penumpasan paling brutal rezim ini.

        Melansir Axios, Trump bahkan sebelum pengangkatan resmi sudah menyebut Mojtaba sebagai sosok yang tidak berbobot dan menegaskan Washington harus ikut menentukan siapa pemimpin Iran berikutnya dan pengangkatan resmi Mojtaba adalah jawaban Teheran atas pernyataan itu: penolakan bulat.

        Mojtaba memulai jabatannya di bawah bayang-bayang tiga ancaman sekaligus. Sebelum pengumuman resmi, akun Farsi militer Israel di X sudah menegaskan bahwa tangan negara Israel akan terus mengejar setiap penerus dan setiap orang yang berupaya menunjuk penerus.

        Senator AS Lindsey Graham bahkan menyebut pemimpin baru itu bukan perubahan yang dicari dan mengatakan hanya masalah waktu sebelum dia mengalami nasib yang sama dengan ayahnya, AliKhamenei .

        Ancaman ketiga datang dari legitimasi teologis Mojtaba yang dipertanyakan karena statusnya hanya hojatoleslam tingkatan ulama menengah, bukan ayatollah penuh meski pengecualian serupa pernah dibuat untuk ayahnya pada 1989.

        Tiga ancaman sekaligus dari Israel, dari Washington, dan dari struktur teologis Islam Syiah sendiri menyambut hari pertama kepemimpinannya.

        Di tengah hujan ancaman dari Washington dan Tel Aviv, satu-satunya sambutan hangat datang dari Moskow. 

        "Kini, ketika Iran sedang menghadapi agresi bersenjata, pekerjaan Anda di jabatan tinggi ini tidak diragukan lagi akan membutuhkan keberanian dan dedikasi yang besar. Saya yakin Anda akan melanjutkan pekerjaan ayah Anda dengan terhormat dan menyatukan rakyat Iran dalam menghadapi cobaan berat." Tulis Putin dalam Telegramnya.

        China turut menyatakan menentang segala upaya penargetan terhadap pemimpin baru Iran — dua kekuatan besar yang sekali lagi memposisikan diri di sisi berlawanan dari Washington dalam konflik ini.

        Baca Juga: Putin Siap Turun Tangan Stabilkan Timur Tengah Usai Serangan AS-Israel ke Iran

        Bagi pasar energi global, pengangkatan Mojtaba bukan sekadar berita politik. Reporter senior Al Jazeera Ali Hashem merangkumnya dengan "Kami tidak mengharapkan moderasi apa pun. Namun jika perang ini berakhir dan ia masih hidup serta mampu memimpin negara, ada potensi besar untuk menemukan jalur baru bagi Iran."

        Artinya selama perang masih berlangsung, pemimpin baru Iran adalah variabel yang justru berpotensi memperpanjang bukan memperpendek konflik. Dan bagi pasar minyak yang sudah mencatat kenaikan harga 36 persen dalam sepekan, itu adalah berita yang tidak menggembirakan.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Wahyu Pratama
        Editor: Amry Nur Hidayat

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: