Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        China Peringatkan Amerika Serikat Terkait Pabrik Amunisi di Filipina

        China Peringatkan Amerika Serikat Terkait Pabrik Amunisi di Filipina Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Hubungan China dan Amerika Serikat kembali panas. Hal ini terkait dengan rencana pembangunan jalur produksi amunisi baru di Filipina. Beijing khawatir wacana tersebut menjadi sinyal konflik di Asia Pasifik.

        Dikutip dari Xinhua, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian menegaskan bahwa kerja sama militer antarnegara seharusnya tidak menargetkan pihak ketiga atau merugikan kepentingan negara lain, serta tidak mengganggu stabilitas kawasan.

        Baca Juga: Amerika Serikat Bilang China Diam-diam Kirim Alat Pembuat Chip ke Iran

        Lin menyampaikan bahwa upaya membangun aliansi militer dalam kawasan terkait berpotensi meningkatkan ketegangan. Ia bahkan memperingatkan bahwa negara-negara yang terlibat bisa berubah menjadi “titik panas” konflik jika terus mendorong konfrontasi.

        China juga menegaskan akan mempertahankan kedaulatan wilayah, kepentingan keamanan, serta hak-hak nasionalnya dari segala bentuk ancaman.

        Menurut Lin, Asia-Pasifik merupakan kawasan penting yang menjadi motor pertumbuhan ekonomi global, sehingga stabilitas regional harus dijaga. Menurutnya, Amerika Serikat dan sekutunya untuk harus menghormati aspirasi negara-negara dalam kawasan dan berkontribusi pada perdamaian, bukan justru memicu konfrontasi.

        Rencana pembangunan fasilitas produksi amunisi dinilai sebagai bagian dari upaya penguatan kehadiran militer dari Amerika Serikat di Asia-Pasifik. Langkah ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan dalam kawasan, terutama terkait sengketa di Laut China Selatan.

        Adapun Filipina dan Prancis baru-baru ini resmi menandatangani perjanjian militer yang memungkinkan kedua negara menggelar latihan bersama dalam wilayah masing-masing. Hal ini terjadi saat negara tersebut bersitegang dengan China di Laut China Selatan (LCS).

        Filipina menyatakan bahwa perjanjian ini akan memperkuat kerja sama bilateral dan memberikan perlindungan hukum bagi aktivitas bersama antara angkatan bersenjata kedua negara. Kesepakatan tersebut juga membuka peluang peningkatan interoperabilitas militer.

        Filipina dan Prancis juga membahas tantangan keamanan regional serta menegaskan dukungan terhadap tatanan internasional berbasis aturan.

        Sebelumnya, Filipina juga telah memiliki perjanjian serupa dengan beberapa negara, termasuk Amerika Serikat, Australia, Jepang, dan Selandia Baru. Langkah ini menunjukkan strategi mereka dalam memperluas jaringan pertahanan di tengah meningkatnya tekanan geopolitik.

        Penandatanganan perjanjian ini menjadi sorotan karena terjadi hanya sehari setelah insiden yang melibatkan kapal dari China dan Filipina di Laut China Selatan.

        Militer Filipina menyebut sebuah kapal fregat rudal negara terkait melakukan manuver yang dianggap tidak aman terhadap kapalnya yang sedang menjalankan operasi di Pulau Thitu.

        Baca Juga: Fokus Iran, Amerika Serikat Pertimbangkan Alihkan Senjata dari Ukraina ke Timur Tengah

        China di sisi lain mengatakan bahwa pihaknya memiliki hak untuk melindungi kedaulatan wilayahnya dan mengecam provokasi yang dilakukan oleh Filipina. Manila dinilainya telah menyebarkan propaganda terkait dengan Laut China Selatan.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Aldi Ginastiar

        Bagikan Artikel: