Kredit Foto: Ist
Presiden ke-7 RI Joko Widodo mengingatkan bahwa lonjakan harga energi akibat konflik global berpotensi mengguncang stabilitas fiskal Indonesia. Ia menekankan bahwa ketidakpastian perang di Timur Tengah membuat proyeksi ekonomi, khususnya harga minyak, menjadi sulit diprediksi.
Pernyataan tersebut disampaikan setelah Jokowi melakukan komunikasi langsung dengan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman. Dari percakapan itu, ia memperoleh gambaran bahwa bahkan pihak di kawasan konflik pun belum memiliki kepastian.
Jokowi mengungkapkan bahwa komunikasi dilakukan saat perang baru berlangsung beberapa hari. Ia mencoba mencari kepastian terkait arah konflik dan dampaknya terhadap sektor energi global.
“Saya telepon saat perang baru tiga hari, saya telepon kakak saya di Uni Emirat Arab, Yang Mulia MBS, saya tanya, 'Yang Mulia kapan perangnya selesai?',” kata Jokowi dikutip dari akun Youtube YOUTUBER NUSANTARA, Sabtu (4/4/2026).
Langkah tersebut dilakukan untuk memahami seberapa besar potensi dampak yang akan terjadi.
Namun, jawaban yang diterima justru menunjukkan ketidakjelasan situasi di lapangan. Menurut Jokowi, tidak ada kepastian terkait kapan konflik akan berakhir.
“Baru mulai itu saya sudah tanya, ‘kapan perangnya kira-kira selesai?’ Dijawab enggak pasti dan enggak jelas,” ujarnya.
Ketidakjelasan tersebut juga berimbas pada sektor energi yang sangat sensitif terhadap konflik geopolitik. Jokowi mengaku turut menanyakan potensi kenaikan harga minyak dunia.
“Kemudian saya bertanya, ‘Harga minyak ini akan sampai berapa?’ Dijawab juga enggak pasti dan enggak jelas,” kata dia.
Untuk memastikan kondisi tersebut, Jokowi kembali mencari konfirmasi melalui jalur lain. Ia menghubungi pihak terkait di kawasan untuk mendapatkan gambaran tambahan.
“Saya ulangi lagi telepon ke menterinya di sana, jawabannya juga sama,” ucapnya.
Menurut Jokowi, kondisi ini menjadi tantangan besar bagi negara yang bergantung pada stabilitas harga energi. Ketidakpastian tersebut membuat perencanaan ekonomi menjadi lebih sulit dilakukan.
“Ini yang sudah di dalam lingkaran perang saja tidak bisa memperkirakan apalagi kita yang ada di sini,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa dampak konflik tidak hanya berhenti pada geopolitik, tetapi juga merembet ke sektor fiskal. Kenaikan harga minyak berpotensi memberi tekanan terhadap anggaran negara.
“Sangat sulit memperkirakan, memprediksi kapan perangnya selesai dan kapan harga minyak akan kembali pada harga yang normal kembali,” sambungnya.
Kondisi ini membuat pemerintah harus lebih waspada dalam menjaga stabilitas ekonomi.
Baca Juga: Jokowi Ungkap Isi Telepon dengan MBS soal Perang dan Harga Minyak
Dalam situasi tersebut, Jokowi mengajak seluruh pihak untuk memperkuat ketahanan fiskal nasional. Ia menilai APBN harus mampu menghadapi berbagai guncangan yang datang secara tiba-tiba.
“Sehingga kita berdoa bersama agar APBN kita, fiskal kita ini kuat menghadapi goncangan-goncangan yang tidak jelas seperti yang kita alami sekarang ini,” jelasnya.
Pesan ini menjadi penegasan bahwa dampak konflik global tidak bisa diabaikan begitu saja.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: