- Home
- /
- New Economy
- /
- Energi
Impor LPG Tembus 83%, Pemerintah 'Paksa' Kilang Swasta Prioritaskan Pasokan ke Pertamina
Kredit Foto: Istimewa
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengambil langkah tegas untuk menjaga ketahanan pasokan Liquefied Petroleum Gas (LPG) nasional.
Pemerintah menginstruksikan seluruh kilang LPG swasta di dalam negeri memprioritaskan penawaran produk mereka kepada PT Pertamina Patra Niaga, guna menjamin ketersediaan energi bagi masyarakat luas.
Sekretaris Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Ditjen Migas) Muhammad Rizwi Jilanisaf Hisjam menegaskan, kebijakan ini diambil untuk meminimalisir risiko kelangkaan gas di tengah tingginya angka impor yang kini menyentuh level 83,97%.
“Kepada kilang LPG swasta agar memprioritaskan penawaran kepada Pertamina Patra Niaga,” tegas Muhammad Rizwi Jilanisaf Hisjam dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XII DPR, dikutip pada Senin (20/5/2024).
Langkah intervensi pasar ini menjadi bagian dari strategi mitigasi pemerintah menghadapi tantangan berat di sektor LPG.
Berdasarkan data Ditjen Migas, produksi LPG domestik saat ini masih jauh di bawah kebutuhan nasional, yang melonjak menjadi 26.000 metrik ton per hari pada periode awal 2026.
Kesenjangan tersebut menyebabkan angka ketergantungan impor melambung dari 80,58% pada tahun 2025, menjadi 83,97% pada awal tahun ini.
Dengan mewajibkan swasta memberikan penawaran pertama kepada Pertamina, pemerintah berharap pasokan yang selama ini dipilih untuk sektor industri, dapat dialihkan untuk memenuhi kebutuhan mendesak subsidi LPG 3 kilogram.
“LPG yang selama ini dijual ke industri juga diupayakan untuk dialihkan ke kebutuhan LPG 3 kilogram, di mana kebutuhan ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat,” tambah Rizwi.
Selain mengandalkan produksi swasta domestik, pemerintah juga tengah melakukan perburuan (hunting) pasokan dari luar negeri, melalui diversifikasi mitra dagang.
Hal ini dilakukan guna menghindari risiko distribusi akibat panasnya suhu politik di Selat Hormuz, Timur Tengah, yang merupakan jalur logistik utama energi global.
“Kami mengalihkan sumber impor yang tadinya berasal dari negara Timur Tengah yang terkendala dengan masalah di Selat Hormuz, menjadi ke negara-negara lain seperti Amerika, Afrika, Asia, dan negara-negara di ASEAN,” jelasnya.
Baca Juga: Pasokan Terancam, Indonesia Alihkan Impor LPG dari Timur Tengah ke AS dan Australia
Pemerintah juga mengoptimalkan kinerja kilang domestik untuk menghasilkan LPG.
Kilang RDMP Balikpapan misalnya, produksi polipropilen dikurangi agar nafta yang ada dapat diimanfaatkan untuk menopang LPG. (*)
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Yaspen Martinus