Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo mengatakan, Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025–2034 disusun sesuai kondisi kebutuhan listrik riil, dalam 10 tahun ke depan.
Total penambahan kapasitas listrik dalam satu dekade ke depan ditarget mencapai 69,5 gigawatt (GW).
Dari total tersebut, sebanyak 76% akan ditopang oleh bauran energi baru terbarukan (EBT), dan sistem penyimpanan energi atau Battery Energy Storage System (BESS).
Darmawan menjelaskan, RUPTL yang diresmikan pada 26 Mei 2025 tersebut merupakan hasil kolaborasi bersama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Melalui asistensi tersebut, proyeksi penambahan kapasitas dinilai telah seimbang dan berorientasi pada kebutuhan (demand driven).
"Kami mengapresiasi inisiatif dari Bapak Menteri ESDM, yang telah menyesuaikan antara target delivery RUPTL, dan juga mem-balance demand listrik yang real di lapangan."
"Sehingga, pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan menjadi jauh lebih terukur dan berbasis pada demand," kata Darmawan dalam rapat bersama Komisi XII DPR, Senin (13/4/2026).
PLN pun bergerak cepat mengeksekusi proyek-proyek dalam RUPTL.
Darmawan melaporkan, perusahaan telah memetakan sebanyak 547 proyek prioritas yang terdiri dari 138 proyek Kawasan Industri Terpadu (KIT) dengan kapasitas 10.337 MW.
Selain itu, terdapat 187 proyek transmisi dengan panjang 14.533 kilometer sirkuit (kms), serta 249 proyek gardu induk dengan total kapasitas 32.470 MVA.
"Kami diperintahkan untuk bisa menyediakan listrik yang andal, listrik yang juga affordable, dan untuk itu kami bergerak penyusunan dokumen pengadaan proyek prioritas dari 547 proyek, 353 proyek proses pengadaan, 156 proyek proses konstruksi, dan 64 proyek sudah commissioning," ungkapnya.
Dari jumlah tersebut, per 31 Maret 2026, sebanyak 97 proyek tengah memasuki tahap lelang pengadaan, dan akan diakselerasi secara bertahap.
"Sampai saat ini kami melakukan proses pengadaan lelang di 97 proyek yang telah dimulai," ujar Darmawan.
TPLN juga tengah mengakselerasi 21 proyek pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) yang dilengkapi BESS, pada semester I 2026.
Pembangkit surya ini tersebar di delapan provinsi, dengan total kapasitas mencapai 513 MWp.
"Kami juga siap meluncurkan bundling project GIGAONE atau Green Integrated GigaWatt Acceleration mulai tahun 2026 ini."
"Dan ini juga memperkuat ketahanan sistem kelistikan, menurunkan BPP, dan juga meningkatkan bauran EBT."
"Sehingga program untuk meningkatkan energy security ini ternyata juga mengakselerasi, yaitu green energy dan juga dalam rangka menurunkan biaya pokok produksi," jelasnya.
Selain penambahan kapasitas, PLN juga menyiapkan infrastruktur Green Enable Super Grid sepanjang 48.000 kilometer sirkuit (kms).
Jaringan besar ini dirancang untuk mengatasi ketidaksesuaian antara lokasi sumber EBT, yang umumnya berada di daerah terpencil dengan pusat-pusat beban industri.
Darmawan menekankan, strategi ini merupakan bagian dari arahan Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat swasembada energi nasional, melalui peralihan dari energi fosil berbasis impor menuju energi hijau berbasis domestik.
Dalam rencana tersebut, energi baru seperti nuklir juga akan mulai masuk ke dalam sistem dengan kapasitas 500 MW.
"Kita juga beralih dari bahan bakar fosil yang ada komponen impornya, menjadi bahan bakar terbarukan yang berbasis pada domestik.
Harapannya, penggunaan energi yang masih berbasis pada impor dan energi mahal, yaitu BBM, harus segera kami kurangi dalam jangka waktu pendek dan menengah,” paparnya.
Baca Juga: PLN Butuh Waktu 11-14 Tahun Bangun PLTN, RUPTL Berpotensi Diperpanjang Hingga 2040
Secara fundamental, sistem kelistrikan nasional per Maret 2026 dilaporkan berada dalam kondisi normal, dengan Daya Mampu Netto (DMN) sebesar 71,15 GW, dan margin cadangan pada level 39%.
Keandalan ini diharapkan menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi nasional, melalui penyediaan energi yang berkelanjutan dan kompetitif di pasar global. (*)
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Yaspen Martinus
Tag Terkait: