Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        BI Beberkan Biang Kerok Rupiah Jebol ke Level Rp17.500 per USD

        BI Beberkan Biang Kerok Rupiah Jebol ke Level Rp17.500 per USD Kredit Foto: Bank Indonesia
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Bank Indonesia (BI) buka suara setelah nilai tukar rupiah ditutup melemah ke level Rp17.529 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (12/6/2026). Rupiah tercatat turun 115 poin atau 0,66 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.

        Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, mengatakan konflik di kawasan Timur Tengah yang semakin memanas menjadi salah satu pemicu utama meningkatnya tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

        "Conflict di Middle East yang masih berlangsung dengan intensitas yg meningkat sehingga mendorong naiknya harga minyak dan ketidak pastian global," kata Destry dalam keterangannya, Jakarta, Selasa (12/6/2026).

        Selain faktor global, BI juga mencermati meningkatnya kebutuhan dolar AS di dalam negeri yang bersifat musiman. Permintaan valas tersebut antara lain berasal dari pembayaran utang luar negeri (ULN), pembayaran dividen perusahaan, hingga kebutuhan dana untuk pelaksanaan ibadah haji.

        Menurut Destry, kondisi tersebut mendorong peningkatan permintaan dolar AS di pasar domestik sehingga memberikan tekanan tambahan terhadap rupiah.

        Meski demikian, BI menegaskan akan terus berada di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Upaya yang dilakukan antara lain melalui strategi smart intervention di pasar spot, Domestic Non Deliverable Forward (DNDF), maupun Non Deliverable Forward (NDF).

        Selain itu, BI juga mengoptimalkan seluruh instrumen operasi moneter guna meredam volatilitas nilai tukar rupiah.

        Destry mengatakan, di tengah tekanan terhadap rupiah, BI melihat kepercayaan investor asing terhadap aset portofolio domestik masih membaik. 

        Baca Juga: Rupiah Tembus Rp17.500 per USD, Purbaya Siap Beri Penjelasan ke DPR

        Baca Juga: Rupiah Tembus Rp17.500, Puan Warning Pemerintah: Jangan Sampai Indonesia Terpuruk!

        Hal tersebut tercermin dari masuknya aliran modal asing (capital inflow), khususnya ke pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) selama April 2026 yang mencapai Rp61,6 triliun.

        Selain itu, likuiditas valuta asing di pasar domestik juga dinilai masih memadai. BI mencatat pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) valas pada akhir Maret 2026 mencapai 10,9 persen secara year to date (ytd).

        "BI memperkirakan tekanan yang bersifat musiman ini akan mereda sehingga nilai tukar Rupiah bisa kembali ke level fundamentalnya," pungkasnya.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Cita Auliana
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Bagikan Artikel: