Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Cegah Blackout Susulan, DEN Minta Pemulihan Sistem Kelistrikan Sumatra Dilakukan Hati-Hati

        Cegah Blackout Susulan, DEN Minta Pemulihan Sistem Kelistrikan Sumatra Dilakukan Hati-Hati Kredit Foto: Rahmat Saepulloh
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Proses pemulihan sistem kelistrikan Sumatra pascagangguan pada jaringan transmisi interkoneksi perlu dilakukan secara bertahap dan penuh kehati-hatian guna menjaga stabilitas sistem secara menyeluruh.

        Dengan cakupan interkoneksi yang membentang ribuan kilometer dan melibatkan banyak pembangkit listrik, keberhasilan pemulihan dalam waktu relatif cepat menunjukkan penanganan yang cukup baik.

        Anggota Dewan Energi Nasional (DEN), M Kholid Syeirazi mengatakan bahwa pemulihan sistem interkoneksi berskala besar tidak dapat dilakukan secara instan karena seluruh komponen jaringan, mulai dari pembangkit hingga transmisi, harus kembali tersinkronisasi secara stabil.

        “Pemulihan sistem kelistrikan skala besar memang harus dilakukan penuh kehati-hatian. Yang dikejar bukan sekadar cepat menyala, tetapi memastikan sistem kembali normal secara aman dan andal,” ujar Kholid dalam keterangannya, Jakarta, Minggu (31/5/2026).

        Kholid menjelaskan bahwa dalam sistem interkoneksi, kestabilan frekuensi menjadi indikator utama keseimbangan antara daya pembangkitan dan beban pelanggan. Saat terjadi gangguan besar yang menyebabkan sejumlah pembangkit terlepas dari sistem, frekuensi dapat turun drastis dan memicu efek domino pada jaringan kelistrikan.

        “Kalau recovery dilakukan terlalu cepat tanpa sinkronisasi yang tepat, risikonya frekuensi kembali turun dan memicu pembangkit lepas lagi dari sistem. Itu yang harus dihindari,” tambahnya.

        Oleh karena itu, proses pemulihan dilakukan secara bertahap dan terukur untuk memastikan sinkronisasi antar pembangkit tetap terjaga, baik dari sisi frekuensi, tegangan, maupun sudut fasa sistem.

        Menurut Kholid, ketidakseimbangan antara pasokan listrik dan beban akibat proses pemulihan yang terlalu agresif dapat memicu pemadaman berskala besar (blackout) susulan serta berpotensi mengganggu peralatan pembangkit maupun jaringan transmisi.

        “Dalam sistem interkoneksi sebesar Sumatra, stabilitas sistem menjadi prioritas utama. Recovery bertahap justru diperlukan agar sistem benar-benar pulih secara aman,” tuturnya.

        Kholid menambahkan, pembangkit thermal seperti PLTU membutuhkan waktu lebih panjang dalam proses pemulihan karena harus melewati tahapan teknis mulai dari pemanasan boiler, pembentukan tekanan uap, sinkronisasi frekuensi, hingga stabilisasi beban sebelum dapat beroperasi penuh.

        “PLTU memang tidak bisa serentak masuk kembali ke sistem. Ada tahapan teknis yang harus dijalankan agar unit pembangkit tetap aman dan tidak mengalami gangguan saat sinkronisasi,” ujarnya.

        Baca Juga: YLKI Jelaskan Tahapan Regulasi yang Mengatur Kompensasi Blackout

        Baca Juga: Eks Menteri ESDM Sudirman Said Bicara soal Blackout Sumatra, 'it it beyond regulations'

        Ia menilai proses pemulihan yang dilakukan hingga sistem kelistrikan Sumatra kembali normal menunjukkan penanganan dilakukan secara terukur pada sistem interkoneksi berskala besar.

        “Dalam penanganan gangguan sistem interkoneksi, kehati-hatian dan tahapan recovery yang terukur menjadi faktor utama agar pemulihan berjalan stabil dan tidak memicu blackout susulan. Saya melihat proses pemulihan yang dilakukan sudah cukup baik sehingga sistem bisa kembali normal dengan aman,” tutupnya.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Cita Auliana
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Bagikan Artikel: