Kredit Foto: Istimewa
Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menilai sektor riil sedang menghadapi tekanan berlapis setelah pelemahan rupiah terjadi bersamaan dengan kontraksi manufaktur dan tingginya biaya usaha. Kondisi tersebut menciptakan apa yang disebut dunia usaha sebagai triple shock terhadap aktivitas industri nasional.
Ketua Umum Apindo Shinta Kamdani mengatakan tekanan terhadap dunia usaha telah berlangsung sejak awal tahun ketika rupiah masih berada di level Rp16.800 per dolar AS. Kini, setelah menyentuh Rp18.000 per dolar AS, dampaknya semakin terasa terhadap biaya produksi dan keputusan bisnis perusahaan.
Menurutnya, tekanan yang dihadapi dunia usaha tidak hanya berasal dari nilai tukar, tetapi juga dari tingginya biaya logistik, energi, serta pembiayaan.
“Dengan kata lain, saat ini pelaku usaha menghadapi tekanan berlapis atau externally driven cost pressure yang cukup signifikan,” ujarnya, dalam keterangan resmi, Jakarta, Kamis (4/6/2026).
Di saat biaya usaha meningkat, indikator sektor manufaktur justru menunjukkan pelemahan. PMI manufaktur kembali masuk zona kontraksi sejak Juli 2025 dan belum menunjukkan pemulihan yang kuat.
Selain itu, Indeks Kepercayaan Industri juga terus mengalami penurunan, mengindikasikan memburuknya persepsi pelaku usaha terhadap kondisi bisnis ke depan.
Shinta mengatakan pelemahan rupiah saat ini jauh lebih dalam dibandingkan posisi pada kuartal pertama tahun ini. Padahal pada periode tersebut sebagian besar subsektor manufaktur sudah menunjukkan perlambatan.
Sebanyak 10 subsektor manufaktur tercatat tumbuh di bawah rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional, sementara empat subsektor lainnya mengalami kontraksi.
Baca Juga: Apindo Jujur, Lapangan Kerja Bakal Makin Sulit Usai Rupiah Sentuh Rp18.000
Baca Juga: Rupiah Tembus Rp18.000, Purbaya: Itu Yurisdiksi Bank Sentral, Kewajiban Saya Jaga Fondasi Ekonomi
Baca Juga: Ngeri! Dolar AS Ngamuk Bikin Rupiah Jebol ke Rp18.000
Tekanan tersebut paling besar dirasakan sektor tekstil dan produk tekstil, kimia, petrokimia, plastik, logam dasar, elektronik, serta otomotif.
Menurut Shinta, kombinasi pelemahan rupiah, kontraksi manufaktur, dan tingginya biaya usaha membuat banyak perusahaan memilih bersikap defensif.
Langkah yang ditempuh antara lain melakukan efisiensi operasional, pengendalian biaya non-esensial, penundaan ekspansi, penundaan investasi baru, serta pembekuan perekrutan tenaga kerja.
“Fokus utama saat ini adalah menjaga business continuity sekaligus mempertahankan lapangan kerja di tengah tekanan biaya yang meningkat,” kata Shinta.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: