Kredit Foto: Unsplash/Asso Myron
Keberhasilan Program Strategis Nasional (PSN) di Papua dinilai tidak cukup diukur dari pembangunan kawasan ekonomi maupun infrastruktur. Pembangunan disebut baru dapat dikatakan berhasil apabila mampu melahirkan generasi Orang Asli Papua (OAP) yang berpendidikan, berdaya saing, dan menjadi pelaku utama pembangunan di daerahnya.
Pandangan tersebut mengemuka dalam Konsultasi Publik bertajuk Perumusan Model Pendidikan Nonformal Berbasis Komunitas, Pendampingan Belajar, dan Pengasuhan yang Berakar pada Budaya Lokal dalam Menjaring Aspirasi, Menyelaraskan Aksi, Mewujudkan Generasi Papua Unggul yang diselenggarakan Merah Pusaka Stratejik Indonesia (MPSI) di Aula Anim Ha, Merauke, Jumat (24/7/2026).
Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Merauke, Irwan, mengatakan pengembangan PSN, termasuk di kawasan Wanam, akan membawa perubahan sosial dan ekonomi yang besar. Oleh karena itu, pemerintah perlu memastikan pembangunan tersebut diikuti dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia agar masyarakat asli memperoleh manfaat langsung dari investasi yang masuk.
"Jangan sampai pembangunan berjalan cepat, tetapi masyarakat asli hanya menjadi penonton. Keberhasilan PSN harus diukur dari seberapa banyak anak-anak Papua yang nantinya menjadi sarjana, tenaga profesional, wirausahawan, dan pemimpin yang mengelola pembangunan di daerahnya sendiri," kata Irwan.
Menurutnya, pembangunan ekonomi harus berjalan beriringan dengan investasi di sektor pendidikan melalui peningkatan mutu sekolah, perluasan akses beasiswa, pendidikan vokasi, hingga penguatan pendidikan nonformal berbasis komunitas.
"Ketika investasi masuk ke Papua, investasi terhadap manusia Papua juga harus ditingkatkan. Pendidikan adalah modal utama agar Orang Asli Papua memiliki kemampuan bersaing sekaligus memperoleh manfaat langsung dari pembangunan yang berlangsung di wilayahnya," ujarnya.
Ia menambahkan, peningkatan kesejahteraan keluarga juga menjadi faktor penting dalam memperkuat akses pendidikan. Karena itu, PSN diharapkan mampu membuka lebih banyak peluang ekonomi bagi masyarakat lokal sehingga manfaat pembangunan dapat dirasakan secara lebih luas.
"Karena itu, PSN harus membuka ruang ekonomi bagi masyarakat lokal. Ketika kesejahteraan keluarga meningkat, kualitas pendidikan anak juga akan meningkat. Dua hal tersebut tidak dapat dipisahkan," katanya.
Selain mendorong peningkatan kualitas SDM, pembangunan juga dinilai perlu tetap memperhatikan pelestarian identitas budaya masyarakat Papua agar modernisasi berjalan seiring dengan penguatan nilai-nilai lokal.
"Modernisasi harus memperkuat, bukan menghapus identitas budaya. Kita membutuhkan generasi Papua yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi tetap memahami adat, menghormati budaya, serta memiliki kepedulian terhadap masyarakatnya," ujarnya.
Baca Juga: Brantas Abipraya Kebut PSN Bendungan Bulango Ulu, Progres Tembus 94,99%
Baca Juga: Kebut PLTA Upper Cisokan 1.040 MW, PLN Gaet Kejagung Kawal PSN
Ia menegaskan, keberhasilan PSN pada akhirnya akan tercermin dari meningkatnya kualitas sumber daya manusia Papua dan semakin besarnya peran Orang Asli Papua dalam mengelola pembangunan di wilayahnya.
"Tujuan akhir pembangunan bukan sekadar membangun kawasan, melainkan membangun manusianya. Ketika anak-anak Papua tumbuh menjadi generasi yang cerdas, sejahtera, dan mampu memimpin pembangunan di tanahnya sendiri, saat itulah PSN benar-benar berhasil mewujudkan keadilan pembangunan bagi Papua," pungkasnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: