Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Iran Tegaskan Belum Mau Lanjut Negosiasi dengan AS, Gencatan Senjata 60 Hari Tak Ada

        Iran Tegaskan Belum Mau Lanjut Negosiasi dengan AS, Gencatan Senjata 60 Hari Tak Ada Kredit Foto: ChatGPT/Al Musthafa Gustar's
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Iran menegaskan belum mengambil keputusan untuk melanjutkan negosiasi dengan Amerika Serikat (AS). Teheran juga menepis anggapan bahwa komunikasi dengan Qatar dan Pakistan berarti pembicaraan dengan Washington telah dimulai kembali.

        Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan komunikasi melalui mediator tidak bisa dianggap sebagai negosiasi langsung. Pernyataan itu disampaikan setelah muncul laporan mengenai kemungkinan perpanjangan gencatan senjata 60 hari berdasarkan Memorandum Islamabad.

        "Apa yang tercantum dalam memorandum Islamabad adalah mengakhiri perang, bukan gencatan senjata," kata Araghchi kepada kantor berita ISNA, seperti dilansir Reuters dan Anadolu Agency, Sabtu (15/8/2026).

        Araghchi menuding Amerika Serikat telah melanggar kesepakatan tersebut. Menurutnya, tidak ada periode gencatan senjata 60 hari yang harus diperpanjang.

        "Amerika Serikat telah melanggar memorandum tersebut, dan pertempuran kembali berlanjut. Oleh karena itu, tidak ada gencatan senjata 60 hari yang perlu diperpanjang," tegasnya.

        Menurut Araghchi, periode 60 hari dalam Memorandum Islamabad merupakan waktu yang disiapkan untuk melakukan negosiasi. Periode tersebut ditujukan untuk mencapai kesepakatan akhir dan bukan menjadi durasi gencatan senjata.

        "Baik Qatar maupun Pakistan terus bertukar pesan dan menjalin komunikasi dengan kami, tetapi hal itu tidak berarti adanya negosiasi," ujarnya.

        "Belum ada keputusan yang diambil untuk melanjutkan kembali pembicaraan dengan Amerika Serikat," tegas Araghchi.

        Di tengah hubungan yang masih tegang dengan Washington, Iran tetap melakukan pembicaraan dengan Oman. Araghchi memastikan pembicaraan tersebut tidak berkaitan dengan rencana negosiasi Iran dan AS.

        Pembicaraan dengan Oman saat ini berfokus pada persoalan teknis di Selat Hormuz. Salah satu pembahasannya adalah penentuan jalur pelayaran baru karena rute sebelumnya dinilai sudah tidak memadai.

        "Saat ini kami sedang merancang rute sementara yang nantinya akan menjadi rute permanen," ungkapnya.

        Pakar dari Iran dan Oman turut terlibat dalam pembahasan tersebut. Angkatan Bersenjata Iran juga ikut dilibatkan dalam proses teknis yang disebut Araghchi diperkirakan segera rampung.

        Baca Juga: Iran Tantang Klaim Trump, Sebut 75% Rudal dan Drone Masih Siap Tempur

        Namun, Araghchi menegaskan pembahasan mengenai jalur pelayaran tidak otomatis berarti Selat Hormuz akan segera dibuka kembali. Iran masih mempertimbangkan sejumlah persyaratan sebelum jalur strategis tersebut kembali beroperasi.

        "Setelah rute ditetapkan, keputusan mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz akan bergantung pada terpenuhinya syarat-syarat lain yang harus dipenuhi oleh Amerika Serikat," tandasnya.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Christian Andy
        Editor: Christian Andy

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: