Buntut Heboh Konspirasi Pertemuan Prabowo-Putin Dikaitkan dengan 6 Gunung Erupsi, Dudung Tegaskan Ulta Levenia Bukan Lagi Anggota KSP!
Kredit Foto: Instagram/Ulta Levenia Nababan
Kantor Staf Kepresidenan akhirnya angkat bicara menyusul kegaduhan publik akibat pernyataan kontroversial Ulta Levenia Nababan.
Ulta sebelumnya melempar spekulasi liar yang mengaitkan fenomena erupsi enam gunung berapi di Indonesia dengan senjata cuaca rahasia Amerika Serikat, HAARP, serta kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Rusia.
Kepala Staf Kepresidenan (KSP), Jenderal TNI (Purn) Prof. Dr. Dudung Abdurachman, langsung merespons hal tersebut. Ia memastikan bahwa Ulta Levenia saat ini sudah tidak lagi menjabat sebagai Tenaga Ahli Utama di lingkungan KSP.
"Ulta sudah bukan di KSP lagi. Dulu dia di staf KSP sebagai tenaga ahli utama, tetapi sekarang sudah tidak. Dia sekarang salah satu deputi di Bakom," kata Dudung kepada wartawan, Kamis (10/9/2026).
Dudung memastikan seluruh pernyataan dan opini pribadi Ulta di media sosial sama sekali tidak mewakili sikap resmi Kantor Staf Presiden maupun pemerintah.
"Jadi, bukan anggota saya lagi itu," tuturnya memberi penegasan batas.
Sementara itu, terkait rentetan aktivitas vulkanik yang melanda sejumlah gunung api di Tanah Air, mantan Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) itu meminta masyarakat untuk tetap tenang dan berpikir rasional.
Dudung menepis mentah-mentah teori konspirasi yang menyebut adanya campur tangan pihak luar atau campur tangan teknologi geopolitik militer dalam bencana alam di Indonesia. Menurutnya, segala bentuk dinamika bumi sudah dipantau secara ketat dan rasional oleh para ahli geologi.
"Kalau masalah bencana alam, menurut saya itu dinamika alam lah ya. Para ahli juga sudah mempelajari dan melihat perkembangan saat ini. Tentunya, saya punya keyakinan bahwa ini kan kehendak Yang Kuasa," ucap Dudung menenangkan publik.
Ia kembali menggarisbawahi bahwa bencana alam yang terjadi tidak memiliki korelasi apa pun dengan konspirasi global. "Menurut saya, tidak dikaitkan dengan apalagi kepentingan dengan pihak luar dan sebagainya," sambungnya.
Nama Ulta Levenia sebelumnya mendadak viral usai mengunggah pandangan skeptisnya melalui akun Instagram pribadi pada Senin (7/9/2026).
Dalam unggahannya, ia melakukan "cocokologi" antara fenomena meletusnya enam gunung api di Indonesia secara nyaris bersamaan dengan agenda pertemuan kenegaraan tingkat tinggi di Rusia.
"Walau gak ada bukti ilmiah yang kredibel, tapi otak skeptis pasti berpikir atau setidaknya entertain pemikiran, ‘Kenapa sehari setelah Presiden RI bersalaman mesra dengan Putin di Vladivostok, 6 gunung vulkanik Indonesia erupsi secara bersamaan?’" tulis Ulta saat itu.
Lebih jauh, ia menyeret nama HAARP (High-frequency Active Auroral Research Program) fasilitas pemancar gelombang radio milik AS di Alaska yang kerap dijadikan kambing hitam dalam berbagai teori konspirasi global pencipta gempa buatan dan pengubah cuaca ekstrem.
Pernyataan inilah yang kemudian memicu bantahan keras, baik dari kalangan akademisi vulkanologi Universitas Gadjah Mada (UGM) dan beberapa pakar geologi lainnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ferry Hidayat
Editor: Ferry Hidayat