Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Sport & Lifestyle
Government
Video
Indeks
About Us
Social Media

Mengenal Keunikan Juxtaposition Street Photography

Oleh: ,

Warta Ekonomi, Jakarta -

Tren pada dunia fotografi senantiasa berubah seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi kamera sebagai alat pendukungnya. Salah satu tren dalam dunia fotografi yang tengah hits pada saat ini adalah street photography.

CEO Axia World Indonesia Alex Mulya mengatakan ada dua gaya street photography yang secara filosofi saling bertentangan satu sama lain, yaitu street portrait dan juxtaposition photography. Ia mengatakan street portrait kerap menggambarkan kondisi seseorang secara utuh dan jelas, misalnya orang miskin atau orang kaya, anak muda atau orang tua.

"Yang kedua yang jauh lebih sulit adalah juxtaposition photography. Berbeda dengan gaya sebelumnya, juxtaposition justru mengisahkan dua tokoh yang berbeda dalam satu cerita. Ada dua tokoh yang kondisinya berlawanan, misalnya miskin versus kaya ditabrakkan dalam satu gambar," katanya kepada Warta Ekonomi melalui pesan tertulis di Jakarta, Minggu (3/7/2016).

Alex menjelaskan momen-momen yang ditangkap dalam foto juxtaposition photography menggambarkan situasi yang paradoks dan penuh ironi.

"Jika sebuah portrait menyampaikan kondisi yang jelas tentang Jakarta. Misalnya, foto Jakarta yang miskin atau Jakarta yang kaya maka juxtaposition menabrakkan keduanya sehingga kita seakan disadarkan bahwa di dalam kemajuan Jakarta ternyata masih banyak mereka yang miskin juga atau justru menjadi korban kemajuan tersebut," ujarnya.

Ia mengakui dirinya tidak terlalu suka memotret sesuatu dengan menggunakan pendekatan juxtaposition photography karena gaya fotografi tersebut memerlukan tingkat keterampilan yang tinggi. Selain itu, dibutuhkan sebuah kesabaran dan ketekunan buat memotret dua hal yang saling bertentangan satu sama lain dalam satu momen.

"Kedua, juxtaposition diharamkan dalam teknik branding. Sebagai brand consultant, saya selalu menekankan single concept dalam personality sebuah brand, apakah brand ini berkarakter mewah atau murah? Pilih salah satu lalu disampaikan dalam bentuk komunikasi yang konsisten. Misalnya brand yang mewah harus memakai bintang iklan yang mewah dengan baju yang mewah di rumah yang mewah. Ini bagaikan portrait dari brand tesebut," paparnya.

Meski demikian, imbuhnya, ada beberapa brand yang cukup "berani" menggunakan juxtaposition photography dalam memperkenalkan produknya.

"Nah, tapi kalau teman-teman tertarik untuk melihat brand yang berani menjalankan gaya juxtaposition boleh lihat contoh-contoh iklan Benetton (United Colors of Benetton) yang kontroversial. Di situ bisa dilihat betapa nekadnya brand tersebut mengontraskan kaum kulit putih versus hitam dan mengangkat isu-isu sensitif lainnya," pungkasnya.

Berani mencoba?

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Cahyo Prayogo

Advertisement

Bagikan Artikel: