Biden Ajak Negara-negara G7 Bareng-bareng Gebuk China, Kenapa?
Dan Maret lalu, Uni Eropa mengumumkan sanksi yang menargetkan empat pejabat China yang terlibat dengan pelanggaran hak asasi manusia di Xinjiang. Merespon hal tersebut, Beijing juga memberikan sanksi pada beberapa anggota Parlemen Eropa dan warga Eropa lainnya yang kritis terhadap Partai Komunis China.
Pejabat pemerintahan Biden melihat peluang untuk mengambil tindakan nyata menentang ketergantungan China pada kerja paksa. Yang mereka anggap sebagai penghinaan terhadap martabat manusia.
Tekanan pada China, tidak akan berdampak sanksi langsung bagi Beijing. Seorang pejabat senior pemerintah AS mengatakan, tindakan itu akan mengirim pesan, bahwa para pemimpin serius membela hak asasi manusia. “Dan bekerja sama untuk memberantas kerja paksa,” kata pejabat itu.
Menurut sejumlah pengamat, diduga ada lebih dari satu juta orang, kebanyakan dari mereka berasal dari etnis Uighur, dikurung dan dikirim ke kamp-kamp di wilayah Xinjiang barat China.
China diduga melaksanakan praktik kerja paksa, membatasi kelahiran secara sistematis, melakukan penyiksaan dan memisahkan anak-anak dari orang tua yang dipenjara. Namun, Beijing membantah tuduhan bahwa mereka melakukan kejahatan.
Di KTT kali ini, G7 juga kedatangan para pemimpin dari negara tamu. Korea Selatan, Australia dan Afrika Selatan, serta Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa Bangsa (Sekjen PBB).
Untuk mengintensifkan kerja sama antara negara-negara demokratis dan berteknologi maju di dunia. India juga diundang. Tapi delegasinya tidak hadir secara langsung karena wabah virus corona yang parah di negara itu.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Muhammad Syahrianto