Bitcoin kembali berada di bawah tekanan di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global. Meskipun secara teori aset kripto tersebut kerap dipromosikan sebagai lindung nilai saat ketidakpastian meningkat, hal ini nyatanya masih dipegang oleh Emas.
NYDIG Global Head Research, Greg Cipolaro menyebut perbedaan kinerja ini mencerminkan peran masing-masing aset dalam portofolio investor saat terjadi tekanan pasar. Bitcoin dengan perdagangan dua puluh empat jam, likuiditas tinggi dan penyelesaian transaksi instan, kerap menjadi aset pertama yang dijual ketika investor membutuhkan likuiditas cepat.
Baca Juga: Kalah Pamor Lawan Emas, Bitcoin (BTC) Gagal Tembus US$90.000
“Dalam kondisi stres dan ketidakpastian, preferensi terhadap likuiditas mendominasi dan dinamika ini jauh lebih merugikan bitcoin dibandingkan emas,” ungkap Cipolaro, dilansir Senin (26/1).
Ia menambahkan bahwa meskipun bitcoin likuid untuk ukurannya, volatilitasnya yang tinggi membuatnya sering dijual saat leverage dikurangi. Akibatnya, dalam lingkungan risk-off, bitcoin kerap digunakan untuk mengumpulkan kas, menurunkan risiko portofolio dan mengurangi eksposur, terlepas dari narasi jangka panjangnya sebagai “emas digital”.
Sebaliknya, emas cenderung ditahan oleh investor dan berfungsi sebagai penyerap likuiditas. Cipolaro menyebut emas tetap berperan sebagai lindung nilai utama dalam situasi kehilangan kepercayaan jangka pendek, risiko perang, dan ketidakpastian kebijakan.
Tekanan pada bitcoin juga diperparah oleh perilaku pemegang besar. Data on-chain menunjukkan koin lama terus bergerak menuju bursa, mengindikasikan aliran penjualan yang berkelanjutan dan menciptakan seller overhang yang menekan harga. Sementara itu, bank sentral di berbagai negara justru terus membeli emas dalam jumlah besar, menciptakan permintaan struktural yang kuat.
Cipolaro menilai bahwa perbedaan ini juga terkait dengan cara pasar memandang risiko saat ini. Ketidakpastian yang dipicu oleh tarif, ancaman kebijakan dan guncangan jangka pendek dinilai lebih cocok dilindungi oleh emas.
“Bitcoin lebih tepat untuk melindungi risiko jangka panjang seperti pelemahan mata uang fiat atau krisis utang kedaulatan yang berkembang secara perlahan selama bertahun-tahun, bukan dalam hitungan minggu,” ujarnya.
Baca Juga: INALUM Menapaki Usia Emas 50 Tahun, Meneguhkan Eksistensi di Industri Aluminium Nasional
Selama pasar menilai risiko saat ini berbahaya namun belum bersifat fundamental, emas diperkirakan akan tetap menjadi pilihan utama sebagai aset lindung nilai, sementara bitcoin cenderung tertinggal.