Wow, Valuasi Ekonomi Digital Bakal Mencapai USD315 Miliar di 2030

Wow, Valuasi Ekonomi Digital Bakal Mencapai USD315 Miliar di 2030 Kredit Foto: Unsplash/Marvin Meyer

Teknologi Informasi sudah jadi pilihan di semua lini, baik sektor bisnis, pemerintahan hingga kehidupan sehari-hari. Kementerian Komunikasi dan Informatika mencatat di 2020, bandwith  internet secara global bahkan alami kenaikan sejak 2013 hingga 35 persen dan diikuti lalu lintas data bulanan sebesar 230 esabytes.

Menurut Staf Khusus Menkominfo, Dedy Permadi, tren akselerasi digital itu juga tercermin di Indonesia. Hingga 2021, pengguna internet di indonesia mencapai 202,6 juta, dengan penambahan jumlah pengguna layanan digital selama pandemi Covid-19 mencapai 21 juta orang.

Sektor kominfo juga berkembang secara resilian. Terjadi pertumbuhan double digit di sekor ini di tahun 2020 dan menajdi satu-satunya sektor yang tumbuh double digit selama 3 kuartal berturut-turut. Baca Juga: Punya Modal ini, Ekonomi Digital RI Diprediksi jadi Nomor Satu di Asia Tenggara

"Data BPS mencatat sektor ini (kominfo) tumbuh 10,58 persen. Valuasi ekonomi digital Indonesia terus alami pertumbuhn yang positif dan diperkirakan mencapai 53 miliar dolar AS, atau setara 1.005 triliun rupiah," ungkap Dedy dalam diskusi virtual di Jakarta, kemarin.

Dengan perkembangan yang pesat dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah memperkirakan valuasi ekonomi digital Indonesia memiliki proyeksi peningkatan yang positif yakni mencapai 146 miliar dolar AS pada 2025, bahkan akan mencapai 315 miliar dolar AS pada 2030 mendatang.

"Data tersebut tentu ada optimisme. Karena konsistensi pertumbuhan itu memang didukung oleh solidnya hilirisasi ekonomi digital di Indonesia, salah satunya ekosistem startup yang kondusif," jelas Dedy.

Direktur Utama LPPI, Mirza Adityaswara menegaskan bahwa peran teknologi makin penting apalagi di tengah pandemi. Hal ini berkaitan dengan layanan  customer yang terus berkembang dengan inovasi baru, juga dengan adanya vendor-vendor sektor teknologi yang terus bermunculan dan meramaikan persaingan dalam memberikan layanan kepada pelanggan. Baca Juga: OJK Buka Peluang Investasi UMKM dan Pengembangan Ekonomi Digital

"Akan tetapi, perlu diingat bahwa perkembangan teknologi yang pesat itu sejalan dengan risiko yang tidak bisa dianggap sebelah mata. Kita juga menghadapi risiko teknologi dan internet, cyber risk," pungkas Mirza yang juga menjabat Komisaris Utama PT Visionet Internasional (OVO).

Di kesempatan yang sama, Riki Pribadi, Head of Business Insights & Analytics Product OVO mengatakan, perkembangan big data saat ini bukan hal baru. Dan bertambahnya jumlah data yang diproduksi, data pun menjadi critical role dan perusahaan ingin laverage data dalam operasional bisnisnya. 

Namun demikian, data yang dimiliki sekarang tidak mungkin diolah secara tradisional. Sebab menurut Riki data saat ini akan memenuhi beberapa kriteria seperti volume, velocity, variety, veracity, dan value. Volume atau jumah data yang banyak sangat relatif karena terus berkembang dan gap-nya sangat tinggi. Dalam beberapa tahun ke depan terabyte data akan biasa saja.

"Selanjutnya soal vellocity, tingkat penambahan jumlah data yang masuk menjadi sangat tinggi dan realtime. Dalam beberapa jam akan double. Lalu variety terkait dengan kemajemukan data, veracity tekait apa data itu benar adanya. Lalu value, karena nilai data menentukan keputusan yang kita ambil setelah kita selesai memproses keseluruhan data tersebut," jelasnya.

Investasi terbaik ialah investasi leher ke atas. Yuk, tingkatkan kemampuan dan keterampilan diri Anda dengan mengikuti kelas-kelas di WE Academy. Daftar di sini.

WE Discover

Berita Terkait

Video Pilihan

Terpopuler

Terkini