Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Sport & Lifestyle
Video
Indeks
About Us
Social Media

Bandingkan Kenaikan Harga BBM Era Jokowi dengan Pascareformasi, Arief Poyuono: Harga Pecel di Solo setara Bakmi di Singapura

Bandingkan Kenaikan Harga BBM Era Jokowi dengan Pascareformasi, Arief Poyuono: Harga Pecel di Solo setara Bakmi di Singapura Kredit Foto: Boyke P. Siregar
Warta Ekonomi, Jakarta -

Keputusan pemerintah menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) memicu sejumlah reaksi pro dan kontra dari masyarakat. Tak ketinggalan Politikus Partai Gerindra Arief Poyuono yang menyampaikan pendapatnya.

Ia membandingkan kenaikan harga BBM pada zaman pascareformasi dan pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat ini.

Baca Juga: Kenaikan Harga BBM Dinilai Mendadak, Pengamat Ingatkan Jokowi: DPR sebagai Wakil Rakyat Sudah Tak Dianggap Keberadaannya

"Prestasi yang patut kita banggakan oleh Kangmas Jokowi dengan harga BBM dinaikkan harga pecel di Solo setara dengan harga Bakmi di Singapura dan Malaysia," ungkap Arief seperti dikonfirmasi JPNN, Senin (5/9/2022).

Arief menyebutkan sebenarnya pascareformasi harga BBM tidak naik. "Yang buat harga BBM naik itu karena kurs rupiah mulai mendekati Rp15 ribu per rupiah," ujar Arief Poyuono.

Menurut Arief, kondisi kenaikan BBM hari ini karena Jokowi tidak bisa menghindari kenaikan harga BBM bersubsidi di tingkat internasional. Di sisi lain, Jokowi gagal menciptakan kurs USD menjadi Rp10 ribu per USD. Kemudian, diperberat lagi dengan utang luar negeri yang juga terus naik.

"Jika dulu harga BBM disubsidi di era orde baru hingga harga Rp1.000 per liter lalu berlanjut di era reformasi kursi USD pernah di bawah Rp10 ribu, BBM bersubsidi berkisar di Rp5.000 per liter," ujar Arief.

Baca Juga: Hilmi Firdausi Sok Tahu Komentari BBM di Malaysia Lebih Murah, Ferdinand: Dia Bodoh!

Presiden Jokowi mengumumkan kenaikan BBM, Sabtu (3/9/2022). "Pemerintah sudah berusaha sekuat tenaga untuk melindungi masyarakat dengan subsidi. Keputusan dalam situasi sulit ini adalah pilihan terakhir pemerintah yaitu mengalihkan subsidi BBM," ungkap Jokowi dalam konferensi pers di Istana Negara, Jakarta.

Menurut Presiden, selama ini subsidi BBM dinikmati oleh masyarakat mampu sebesar 70 persen.

Baca Juga: Antisipasi Penipuan Berkedok Investasi, OJK Perkuat Literasi Keuangan ke UMKM dan Ibu Rumah Tangga

Artikel ini merupakan kerja sama sindikasi konten antara Warta Ekonomi dengan JPNN.com.

Editor: Ayu Almas

Bagikan Artikel:

WE Academy

Aspek Hukum Perkreditan & Administrasi Kredit

Aspek Hukum Perkreditan & Administrasi Kredit

Lihat Semua