Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Sport & Lifestyle
Video
Indeks
About Us
Social Media

Peluang Emas di Tengah Aktifnya Generasi Z di Internet, Perpusnas Tekankan Pentingnya Literasi Digital

Peluang Emas di Tengah Aktifnya Generasi Z di Internet, Perpusnas Tekankan Pentingnya Literasi Digital Kredit Foto: Perpustakaan Nasional
Warta Ekonomi, Jakarta -

Generasi Z (Gen Z) merupakan generasi yang aktif dalam penggunaan internet. Mereka menerima media sosial sebagai sesuatu yang sudah biasa.

Gen Z pada seabad Indonesia Merdeka akan memegang peran penting dalam pembangunan. Persoalannya, karena Gen Z lebih banyak didominasi kaum remaja, dapat mengakibatkan perilaku kecanduan penggunaan media sosial (social networking addicton).

Baca Juga: Perpusnas Gelar Diskusi Bedah Buku Perdebatan Pasal 33 UUD 1945, Ini yang Dibahas

"Karena bonus demografi, diperkirakan 60% populasi penduduk Indonesia pada 2045 nanti dikuasai oleh generasi milenial yang menguasai digital. Ini jika digarap dengan serius dapat mengantarkan Indonesia menjadi negara maju dan unggul," ucap Kepala Pusat Analisis Perpustakaan dan Pengembangan Budaya Baca Perpustakaan Nasional Adin Bondan.

Hal itu disampaikan Adin Bondan saat mengawali Webinar Gen Z dan Literasi Digital bersama Duta Baca Indonesia (DBI) dan pelaku industri kreatif, pada Jumat (25/11/2022).

Setidaknya ada empat dimensi yang mesti dimiliki dalam literasi digital, yaitu digital skill, digital culture, digital ethic, dan digital save. Perpusnas sesuai arah pembangunan 2020-2024 akan mendorong aktivitas literasi sebagai gerakan sosial (social movement) yang mengakar di masyarakat melalui strategi kolaborasi. Itu artinya, budaya literasi bakal menjadi ruh pembangunan sumber daya manusia. Human capital jadi penentu.

Dulu, pemajuan pembangunan ekonomi ditandai oleh sumber daya alam dan jumlah tenaga kerja yang banyak, seperti yang disampaikan dalam teori ekonomi klasik. "Kini, teori ini gugur dengan adanya teori ekonomi modern yang menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi suatu negara adalah yang berbasis pada ilmu pengetahuan," tambah Adin.

Kondisi ini yang mau tidak mau mendorong perpustakaan untuk berbenah menyesuaikan dengan kebutuhan dan perkembangan peradaban. Perpustakaan saat ini bukan lagi sebagai ruang tertutup, tapi ruang terbuka, ajang berbagi pengalaman, knowledge sharing, dan berlatih keterampilan hidup. "Kami menyebutnya sebagai transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial," lanjut Adin.

Baca Juga: Restrukturisasi Kredit Diperpanjang, OJK Desak Perbankan Perkuat Mitigasi Risiko

Editor: Puri Mei Setyaningrum

Advertisement

Bagikan Artikel: