Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Sport & Lifestyle
Government
Video
Indeks
About Us
Social Media

Penderitaan Jack Ma dan Bisnisnya Berakhir, Denda dari Beijing Sentuh Rekor Nyaris Rp15 Triliun!

Penderitaan Jack Ma dan Bisnisnya Berakhir, Denda dari Beijing Sentuh Rekor Nyaris Rp15 Triliun! Kredit Foto: Forbes
Warta Ekonomi, Jakarta -

Raksasa teknologi China, Jack Ma mengalami kesulitan sejak kritiknya terhadap Beijing sehingga memicu reaksi keras pada perusahaan dan kekayaannya. 

Pada hari Jumat, bank sentral China mengumumkan denda sebesar 7,12 miliar yuan atau USD985 juta (Rp14,9 triliun) untuk Ant Group, raksasa fintech yang didirikan bersama oleh Ma yang mengoperasikan aplikasi pembayaran Alipay. Langkah ini menandakan bahwa tindakan keras peraturan selama bertahun-tahun telah berakhir.

Melansir Business Insider di Jakarta, Senin (10/7/23) tetapi tindakan keras selama bertahun-tahun telah memakan banyak kekayaan Ma serta valuasi pasar dari perusahaan yang dia pegang sahamnya.

Baca Juga: Penderitaan Ant Group Milik Jack Ma Akan Segera Berakhir, Tapi Mau Didenda China Sebesar Ini...

Alibaba, perusahaan andalan yang ia dirikan mengalami penurunan nilai pasar sebesar 45% atau USD620 miliar (Rp9,4 kuadriliun) sejak saham mencapai puncaknya pada tahun 2020, menurut perhitungan Bloomberg.

Ant Group sekarang bernilai sekitar USD78,5 miliar (Rp1.195 triliun), menandai diskon tajam 75% dari penilaiannya sebesar USD315 miliar (Rp4.795 triliun) dalam IPO yang dibatalkan sebelum tindakan keras peraturan Beijing pada tahun 2020.

Penghapusan kolektif senilai USD850 miliar dalam penilaian Alibaba dan Ant telah membuat kekayaan bersih Ma anjlok dari sekitar USD61 miliar (Rp928 triliun) pada Oktober 2020 menjadi USD34,1 miliar (Rp519 triliun) pada hari Senin, menurut Bloomberg's Billionaires Index.

Secara pribadi, Ma juga telah menghindari perhatian selama lebih dari dua tahun.

Sebagaimana diketahui, Ma membuat marah otoritas China setelah memberikan pidato pada Oktober 2020 di mana dia mengkritik sistem regulasi keuangan China dan mengklaim bank-bank China beroperasi dengan mentalitas pegadaian. Kata-katanya memicu pengawasan ketat terhadap bisnisnya, termasuk Alibaba dan Ant, dan tindakan keras yang lebih luas terhadap perusahaan teknologi di China.

Pada bulan Januari, dia terlihat di Bangkok, mengunjungi restoran kaki lima berbintang Michelin dan menonton pertarungan Muay Thai. Dia juga muncul di Hong Kong pada bulan yang sama.

Pada bulan Maret, Ma kembali ke sekolah yang didirikannya di kampung halamannya di Hangzhou di Tiongkok timur.

Pada bulan April, dia diangkat sebagai profesor kehormatan di Universitas Hong Kong. Pada bulan Mei, Ma mengambil posisi mengajar di Jepang, salah satu peran publik pertama yang dia ambil sejak menghilang dari sorotan pada tahun 2020.

Bulan lalu, Ma menghadiri final Kompetisi Matematika Global Alibaba di Hangzhou, tempat Alibaba bermarkas.

Saham Alibaba di Hong Kong naik 3,1% menjadi 86,90 dolar Hong Kong masing-masing pada tengah hari, didukung oleh berita denda tersebut. Saham perusahaan di New York ditutup 8,1% lebih tinggi pada USD90,55 masing-masing pada hari Jumat.

Baca Juga: Demi Perkuat Penguasaan Pasar, Anak Usaha Pertamina Jalin Kerja Sama dengan KKMC

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Fajria Anindya Utami
Editor: Fajria Anindya Utami

Advertisement

Bagikan Artikel: