Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Sport & Lifestyle
Government
Video
Indeks
About Us
Social Media

Emiten Semen Indonesia 101: Performa Perusahaan, Rasio Keuangan, dan Aksi Korporasi

Emiten Semen Indonesia 101: Performa Perusahaan, Rasio Keuangan, dan Aksi Korporasi Ilustrasi: Wafiyyah Amalyris K
Warta Ekonomi, Jakarta -

PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) merupakan perusahaan semen terbesar di Indonesia. Perusahaan yang baru-baru ini menerima kenaikan peringkat saham menjadi idAA+ positif dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) itu terbukti berhasil mempertahankan bisnis di tengah ketidakpastian kondisi ekonomi.

Untuk mengetahui seluk-beluk Semen Indonesia, termasuk sejarah singkat, laporan keuangan, rasio keuangan, profil manajemen, dan aksi korporasi, silakan simak artikel berikut ini!

Baca Juga: Emiten Adaro Energy 101: Kinerja Perusahaan, Rasio Keuangan, dan Aksi Korporasi

Sepenggal Kisah tentang Semen Indonesia

Dengan kapasitas produksi sebanyak 250.000 ton per tahun, setelah diresmikan oleh Soekarno, Semen Indonesia memulai perjalanannya pada tahun 1957. Setelah resmi melantai di bursa per tanggal 8 Juli 1991, perusahaan tersebut menambahkan kapasitas produksinya menjadi 1,8 juta ton per tahun.

Selama beroperasi, Semen Indonesia tercatat telah melakukan akuisisi selama beberapa kali. Melansir dari situs webnya, diketahui bahwa perusahaan itu sudah mengambil alih Semen Padang dan Semen Tonasa pada tahun 1995 serta Thang Long Cement Company (TLCC) pada tahun 2012.

Semen Indonesia terus melakukan berbagai upaya untuk menciptakan kehidupan berkelanjutan, mendorong pemberdayaan, dan mengadopsi teknologi demi menyediakan produk serta jasa yang sesuai dengan kebutuhan konsumen. Selain itu, pada 19 Desember 2022, pemerintah Indonesia melakukan inbreng saham dengan mengalihkan kepemilikan saham di Semen Baturaja ke Semen Indonesia sehingga Semen Baturaja kini menjadi bagian dari Semen Indonesia.

Baca Juga: Emiten Wijaya Karya 101: Kinerja Perusahaan, Rasio Keuangan, hingga Aksi Korporasi

Performa Keuangan Semen Indonesia pada Semester Pertama 2023

Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan beberapa waktu lalu, dikabarkan bahwa Semen Indonesia berhasil meraup laba sebesar Rp866,23 miliar pada semester pertama tahun 2023. Jika dibandingkan dengan keuntungan pada semester pertama tahun 2022, terlihat ada peningkatan sebesar 3,11%.

Pada paruh pertama 2023, pendapatan Semen Indonesia juga menanjak 1,98% menjadi Rp17,03 triliun. Perusahaan tersebut tentunya mengandalkan segmen penjualan semen, beton, terak, sewa tanah, dan lain-lain yang disalurkan kepada pihak berelasi dan pihak ketiga. Merujuk dari sumber yang sama, diketahui bahwa pihak berelasi menyumbang Rp954,05 miliar; sedangkan pihak ketiga memberikan kontribusi sebesar Rp16,07 triliun.

Sementara itu, nominal beban pokok pendapatan terpantau ikut mengalami lompatan. Per Juni 2023, Semen Indonesia dilaporkan harus menggelontorkan Rp12,61 triliun atau setara dengan kenaikan sebesar 5,86% apabila dibandingkan dengan pengeluaran pada periode yang sama di tahun sebelumnya.

Sebagai catatan, perusahaan pelat merah itu mempunyai aset senilai Rp79,44 triliun yang terdiri atas aset lancar sebesar Rp16,52 triliun dan aset tidak lancar sebesar Rp62,91 triliun. Adapun liabilitas dan ekuitas perusahaan masing-masing berada di angka Rp30,80 triliun dan Rp42,69 triliun. 

Baca Juga: Emiten GoTo 101: Kinerja Perusahaan, Rasio Keuangan, hingga Aksi Korporasi

Rasio Keuangan Semen Indonesia

Berkaca pada laporan keuangan pada semester pertama tahun 2023, dilaporkan bahwa Gross Profit Margin (GPM) Semen Indonesia berada di level 25,92%. Perlu diketahui bahwa GPM rata-rata industri berada di angka 30%. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa rasio margin kotor perusahaan satu ini masih perlu ditingkatkan lagi.

Rasio keuangan lain yang akan dipakai untuk melihat kinerja Semen Indonesia adalah Return on Asset (ROA). Jika dikalkulasikan, sepanjang enam bulan pertama tahun 2023, ROA perusahaan semen itu berada di angka 21,43%. Dengan persentase tersebut, perusahaan tersebut tergolong sudah mampu mengelola aset terhadap laba dengan sangat baik.

Rasio keuangan berikutnya yang akan dijadikan tolok ukur adalah Debt to Equity Ratio (DER) dan Current Ratio (CR). Setelah dihitung, diketahui bahwa DER perusahaan berada di posisi 66,54% yang termasuk kategori baik; sedangkan CR Adaro Energy Indonesia berada di posisi 115,05% yang termasuk kategori ideal.

Baca Juga: Emiten Vale Indonesia 101: Performa Perusahaan, Rasio Keuangan, hingga Aksi Korporasi

Profil Manajemen Semen Indonesia

Dalam menjalankan bisnisnya, Semen Indonesia dinahkodai oleh Donny Arsal selaku direktur utama. Sebelum menempati jabatannya yang sekarang, alumni Sekolah Tinggi Manajemen itu pernah memikul tanggung jawab sebagai Komisaris Utama PT Jasamarga Bali Tol, Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Jasa Marga, dan Managing Director PT Mandiri Sekuritas.

Selain Donny, Semen Indonesia juga dipimpin oleh jajaran direksi yang mempunyai pengalaman mumpuni di bidang masing-masing. Jajaran direksi yang dimaksud adalah Reni Wulandari (direktur operasi), Yosviandri (direktur supply chain), Subhan (direktur bisnis dan pemasaran), Andriano Hosny Panangian (direktur keuangan dan manajemen portofolio), dan Agung Wiharto (direktur SDM dan umum).

Sementara itu, kursi Komisaris Utama Semen Indonesia diduduki oleh Rudiantara. Alumni Universitas Padjajaran itu sempat menjadi Wakil Direktur Semen Indonesia, Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia (2014–2019), dan Komisaris PT Indosat.

Tugas komisaris utama tentunya tidak dapat terlaksana dengan baik tanpa bantuan dari komisaris dan komisaris independen. Mengutip dari situs web perusahaan, diketahui bahwa jabatan komisaris diemban oleh Sony Subrata, Yustinus Prastowo, Arief Prasetyo Adi, dan Lydia Silvanna Djaman; sedangkan posisi komisaris independen dihuni oleh Saor Siagian dan Nasaruddin Umar.

Baca Juga: Mirae Asset Sekuritas Optimistis Semen, Otomotif, dan Telko akan Dorong IHSG ke 7.600

Aksi Korporasi Semen Indonesia

Belum lama ini, Semen Indonesia dikabarkan telah menggelontorkan Rp1,65 triliun untuk membiayai pembagian dividen kepada para pemegang saham yang berhak. Nominal tersebut setara dengan Rp245,19 per lembar. Setelah melalui serangkaian proses, termasuk cum dividen dan ex dividen, perusahaan yang bergerak di bidang produksi semen itu membayarkan hak para investor pada tanggal 17 Mei 2023.

Selain itu, dalam rangka mewujudkan agenda pembangunan Indonesia yang mampu memperkuat ketahanan ekonomi untuk pertumbuhan yang berkualitas dan sanggup memperkuat infrastruktur pengembangan ekonomi serta pelayanan dasar, Semen Indonesia menggelar rights issue alias Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD). Aksi korporasi tersebut digelar selama lima hari, yakni sejak 16 Desember 2022 sampai 22 Desember 2022.

Mengacu pada keterbukaan informasi yang sudah dipublikasikan, diterima informasi bahwa perusahaan menawarkan 846.215.318 lembar Saham Seri B dengan harga satuan sebesar Rp100 per unit. Setiap pemegang 100.000.000 lembar saham lama yang namanya tercantum dalam Daftar Pemegang Saham (DPS) per 14 Desember 2022 pukul 16.00 WIB berhak atas 14.266.416 HMETD. Sebagai catatan, satu HMETD setara dengan hak untuk membeli satu saham baru seharga Rp6.600.

Baca Juga: Permintaan Semen Melonjak, Simak Prospek Saham SMGR dan INTP

Semen Indonesia juga dikabarkan sempat terlibat transaksi afiliasi dengan PT Semen Indonesia Aceh alias anak perusahaannya sendiri. Merujuk dari keterbukaan informasi yang dipublikasikan secara resmi, dilaporkan bahwa perusahaan milik negara itu memberikan fasilitas pinjaman pemegang saham secara tunai senilai Rp18,43 miliar dengan bunga sebesar 6,44% per tahun. 

Baca Juga: Industri Perkebunan Berpegang Teguh Pada Konsep Bisnis Berkelanjutan

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Yohanna Valerie Immanuella
Editor: Yohanna Valerie Immanuella

Advertisement

Bagikan Artikel: