Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

BI Optimistis Rupiah Menguat di Tengah Ketidakpastian Global

BI Optimistis Rupiah Menguat di Tengah Ketidakpastian Global Kredit Foto: Antara/Sigid Kurniawan
Warta Ekonomi, Jakarta -

Bank Indonesia (BI) optimistis nilai tukar rupiah akan menguat secara fundamental ke depan, meski saat ini masih mengalami tekanan jangka pendek akibat meningkatnya ketidakpastian global.

Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan bahwa pelemahan rupiah belakangan ini dipengaruhi faktor teknikal yang bersifat sementara. 

“Nilai tukar ini adalah karena faktor-faktor kita sebut technical, faktor-faktor karena jangka pendek. Secara fundamental, nilai tukar Rupiah itu akan menguat,” kata Perry dalam konferensi pers KSSK, Jakarta, Selasa (27/1/2026). 

Baca Juga: Pelemahan Rupiah Bisa Lebarkan Defisit APBN 2025 hingga Rp26 Triliun

Perry mengatakan, pada 26 Januari 2026, rupiah ditutup menguat menjadi Rp16.770 per dolar AS. 

Menurutnya, terdapat sejumlah indikator fundamental yang menopang prospek penguatan rupiah. Pertama, tingkat inflasi yang masih terjaga rendah. Kedua, pertumbuhan ekonomi nasional yang diperkirakan akan membaik. Ketiga, imbal hasil investasi domestik yang tetap menarik bagi investor.

“Tentu saja adalah bagaimana komitmen Bank Indonesia untuk menstabilkan Rupiah dan mengarahkan Rupiah ke arah yang lebih kuat,” terangnya. 

Baca Juga: Rupiah Hampir Sentuh Rp17 Ribu per Dolar AS, Purbaya Yakin Tak Picu Krisis Ekonomi, Kenapa?

Perry juga menyoroti meningkatnya permintaan valuta asing oleh perbankan dan korporasi domestik yang sejalan dengan aktivitas ekonomi, yang turut memengaruhi pergerakan rupiah dalam jangka pendek.

Untuk menjaga stabilitas rupiah, BI terus meningkatkan intensitas langkah-langkah stabilisasi nilai tukar. Upaya tersebut dilakukan melalui intervensi non-delivery forward (NDF) di pasar luar negeri, intervensi di pasar domestik melalui transaksi spot dan NDF, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

Selain itu, Bank Indonesia juga memperkuat stabilisasi nilai tukar melalui pengelolaan struktur suku bunga instrumen moneter dan swap valas guna menjaga daya tarik aliran modal asing ke aset keuangan domestik. 

BI turut memperluas instrumen operasi moneter valuta asing dengan menghadirkan instrumen spot dan swap dalam mata uang Chinese Yuan dan Japanese Yen terhadap rupiah, yang terintegrasi dengan pengembangan pasar uang dan pasar valas.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Cita Auliana
Editor: Annisa Nurfitri

Advertisement

Bagikan Artikel: