Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Meskipun progresnya lambat, pelaku usaha tetap optimistis total volume RKAB timah tahun ini tidak akan mengalami perubahan signifikan dibanding tahun lalu.
Harwendro memproyeksikan angka produksi yang disetujui akan tetap bertahan di kisaran 50 ribu ton.
“Perkiraan kita tahun ini sama dengan tahun lalu, sekitar 50.000-an ton ya (untuk) RKAB,” sambungnya.
Optimisme tersebut didasarkan pada performa timah yang dinilai lebih stabil dibandingkan komoditas lain.
Baca Juga: Nilai Tambah Cuma Naik 2%, Ketum AETI Bilang Hilirisasi Timah Belum Menarik
Berbeda dari sektor batubara dan nikel yang harganya fluktuatif dalam dua tahun terakhir, Harwendro menegaskan timah justru menjadi komoditas andalan Indonesia yang harganya mampu dikendalikan oleh pasar domestik.
Keberhasilan Indonesia dalam mengendalikan harga timah di pasar global ini pun berdampak langsung pada optimalnya setoran royalti ke kas negara.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Yaspen Martinus
Tag Terkait: