Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
“Dua tahun terakhir ini yang begitu sangat stabil di industri mineral dan batubara (adalah timah)."
"Termasuk royalti yang didapat pemerintah juga maksimal, bisa sampai maksimal 10 persen yang dipatok."
"Meskipun fluktuatif, royalti kita ke pemerintah sudah mencapai angka 10 persen tersebut," bebernya.
Berkaca pada kondisi tersebut, AETI berharap pemerintah tidak melakukan pemangkasan volume RKAB timah pada tahun ini.
Baca Juga: Ketum AETI: Penyerapan Hilirisasi Timah Baru 7%
Menurut Harwendro, pengurangan kuota justru berisiko mengganggu keseimbangan pasar global yang saat ini sudah cukup stabil, sekaligus mengancam potensi penerimaan negara.
“Jadi dengan keberhasilan kita mengontrol harga dunia, saya rasa kalau (volumenya) dipotong, justru malah kurang bagus dampaknya,” ulas Harwendro.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Yaspen Martinus
Tag Terkait: