Kredit Foto: Sekretariat Presiden
"Antara lain terkait pengembangan reaktor nuklir, kebijakan Laut Cina Selatan, dan pertahanan serta keamanan perbatasan."
"Sehingga murni ART kita adalah terkait perdagangan," paparnya.
Dengan demikian, ART Indonesia–AS diposisikan sebagai perjanjian yang terpisah dari agenda geopolitik.
Fokus utamanya tetap pada perdagangan dan investasi, tanpa mencampurkan isu pertahanan atau keamanan kawasan.
Baca Juga: Demi Tarif Dagang, Indonesia Terpaksa Beli Bensin dari Amerika Serikat?
Poin keempat menyangkut dinamika global, setelah Indonesia resmi bergabung dengan BRICS pada Januari 2025.
Sebelumnya, sempat muncul wacana tambahan tarif 10 persen bagi anggota blok tersebut dari pihak Amerika Serikat.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Yaspen Martinus
Tag Terkait: