Riza Pasikki: Menambang Panas, Menjaga Integritas, dan Mendorong Akselerasi Geotermal Nasional
Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Di tengah ambisi besar Indonesia mempercepat transisi energi dan mencapai target net zero emission 2060, panas bumi atau geothermal kembali naik kelas menjadi salah satu tulang punggung energi baru terbarukan (EBT).
Di balik geliat tersebut, ada sosok yang konsisten mengawal industri ini dari hulu ke hilir: Riza Pasikki.
Sebagai Sekretaris Jenderal Asosiasi Panas Bumi Indonesia (API) sekaligus Chief Operating Officer (COO) Sarulla Operation Limited, Riza bukan hanya pelaku industri, melainkan juga pemikir dan penggerak ekosistem geothermal nasional.
Lebih dari dua dekade ia mendedikasikan kariernya di sektor ini—sebuah pilihan yang, menurutnya, bukan sekadar pekerjaan, melainkan panggilan.
Dari Teknik Gas Petrokimia ke Geotermal: Awal Perjalanan
Riza menamatkan pendidikan sarjananya di Universitas Indonesia (UI) dengan gelar sarjana di bidang Gas and Petrochemical Engineering, sebelum kemudian melanjutkan pendidikan ke jenjang Master of Science di The University of Tulsa, Oklahoma, Amerika Serikat.
Pendidikan ini mematangkan pemahamannya tidak hanya soal teknik, tetapi juga kompleksitas energi sebagai sektor strategis.
Sekembalinya ke Indonesia pada 2002, ia meniti karier dengan pengalaman beragam — mulai dari industri minyak dan gas, hingga kemudian sepenuhnya berkecimpung di dunia energi panas bumi yang sarat risiko dan ketidakpastian ekonomi.
Riza pernah berkarier di BP Chemical.
Namun, merger antara BP dan Atlantic Richfield Company (ARCO)—perusahaan tempat istrinya bekerja—mendorongnya mengambil langkah berbeda.
Ia memilih bergabung dengan Unocal Geothermal of Indonesia Ltd sebagai production engineer di proyek panas bumi.
Keputusan itu menjadi momen krusial dalam hidupnya.
“Pada saat saya berpindah dari hydrocarbon menjadi geothermal, saya melihat ini sesuatu yang sangat membanggakan."
"Kita bukan hanya memberikan nafkah bagi keluarga, tetapi juga memberi sesuatu bagi komunitas dan lingkungan,” ungkapnya.
Saat isu global warming belum menjadi arus utama seperti sekarang, Riza sudah melihat geothermal sebagai solusi konkret pengurangan emisi.
Dari situlah ia menemukan passion-nya.
Meniti Karier, Mengelola Lapangan, Mengasah Kepemimpinan
Di Unocal, Riza memulai sebagai production engineer.
Ia kemudian beralih ke sisi subsurface, memegang berbagai tanggung jawab di sejumlah lapangan besar seperti Gunung Salak, Wayang Windu, dan Darajat.
Setelah Unocal diakuisisi Chevron, ia mendapatkan penugasan internasional ke Filipina selama tiga tahun, sebagai salah satu expert pengelolaan lapangan geothermal.
Pengalaman lintas fungsi—dari pembangkit, reservoir, pengeboran, hingga manajemen proyek—membentuk perspektifnya yang komprehensif tentang risiko dan peluang industri ini.
Ia juga sempat bergabung dengan Star Energy dan membantu pengembangan lapangan di KS Orka, termasuk Sokoria dan Sorik Marapi.
Kini, sebagai COO Sarulla Operation Limited, ia memimpin salah satu proyek geothermal terbesar di Indonesia.

Lapangan Sarulla di Tapanuli Utara memiliki kapasitas terpasang 3 x 110 MW atau total 330 MW.
Secara konsesi, Sarulla memiliki potensi hingga sekitar 1.000 MW—yang artinya ruang pengembangan masih terbuka lebar.
“Tentunya untuk kita kembangkan sampai 1.000 MW, kita harus lihat dulu keekonomiannya."
"Dengan harga yang sekarang, masa masuk apa enggak nih? Jawabannya sih, susah ya,” ujarnya jujur.
Karakter Kepemimpinan: Mendengar Dua Kali Lebih Banyak
Sebagai pemimpin, Riza memegang filosofi sederhana namun mendalam—nasihat ibunya.
“Allah ngasih kamu dua telinga dan satu mulut."
"You use it in proportional way."
"You listen more than speaking.”
Bagi Riza, kemampuan mendengar harus dua kali lebih baik dibandingkan kemampuan berbicara.
Ia percaya, keputusan yang baik lahir dari pemahaman yang utuh—bukan dari asumsi.
Selain itu, ia memegang prinsip integritas sebagai fondasi utama.
Dalam setiap proses rekrutmen maupun promosi, integritas menjadi faktor pertama yang ia nilai, sebelum keterampilan teknis.
“Nomor satu integrity dulu. Baru kita masuk ke skills."
"Kita punya skills, tapi tanpa integrity, berantakan itu proyek,” ucapnya.
Dalam dinamika industri energi yang padat modal dan berisiko tinggi, integritas bukan sekadar nilai moral, tetapi prasyarat keberlanjutan bisnis.
Membaca Tantangan Geotermal: Potensi Besar, Realisasi Minim
Secara potensi, Indonesia memiliki sedikitnya 24 gigawatt (GW) sumber daya panas bumi.
Namun, yang termanfaatkan baru sekitar 2.744 MW, sejak kemerdekaan hingga kini—kurang dari 15%.
Di sisi lain, pemerintah menargetkan penambahan sekitar 5,2 GW dalam 10 tahun ke depan, sebagaimana tercantum dalam RUPTL PLN 2025-2034 yang telah diluncurkan pada Mei 2025 silam.
Target ini dinilai sangat agresif.
“Dari sisi potensi, sangat realistis."
"Tapi memang enggak mudah untuk kita capai, karena industri ini menghadapi banyak tantangan,” ujar Riza.
Ia mengurai tiga bottleneck utama:
- Keekonomian (Commerciality)
Industri geothermal memiliki risiko eksplorasi setara migas, tetapi tingkat keekonomiannya lebih rendah.
Produk akhirnya adalah listrik yang harus dijual ke PLN sebagai single off-taker, dengan tarif yang diatur pemerintah.
Peraturan Presiden Nomor 112 Tahun 2022 mengatur harga patokan tertinggi (HPT) EBT, termasuk geothermal.
Namun, menurut kajian API bersama konsultan dan akademisi, IRR proyek dengan skema tarif saat ini tidak lebih dari 5%.
“Kalau IRR 5% kan tidak mencerminkan kelayakan suatu proyek."
"Proyek apapun lah, nggak cuma panas bumi,” jelasnya.
API mendorong revisi kebijakan, baik melalui penyesuaian tarif maupun insentif fiskal seperti tax holiday, penghapusan PBB tubuh bumi, relaksasi PPN, hingga kemudahan perizinan.
- Isu Sosial dan Persepsi Masyarakat: Antara Mitos, Ketakutan, dan Tanggung Jawab Industri
Bagi Riza Pasikki, tantangan geothermal tidak selalu datang dari bawah tanah.
Justru, sering kali tantangan terbesar berada di atas permukaan: persepsi publik.
Selama lebih dari dua dekade berkecimpung di industri ini, ia melihat pola yang berulang.
Setiap kali proyek panas bumi masuk ke suatu wilayah, muncul kekhawatiran yang hampir seragam—mulai dari isu penggundulan hutan, pengeringan sumber air, kerusakan danau, hingga kekhawatiran akan gas beracun.
Padahal, menurutnya, sebagian besar kekhawatiran tersebut lahir dari miskonsepsi mendasar tentang bagaimana sistem geothermal bekerja.
Salah satu isu yang paling sering memicu resistensi adalah luas wilayah kerja panas bumi (WKP).
Ketika masyarakat mendengar angka puluhan hingga ratusan ribu hektare, muncul bayangan seluruh lahan itu akan dibuka.
“Pemahaman awal di masyarakat itu, 70 ribu hektare akan dibuka kawasannya, sehingga sawah saya akan hilang."
"Padahal tidak seperti itu,” jelas Riza.
Ia menegaskan, wilayah kerja tersebut pada dasarnya adalah konsesi bawah tanah, bukan izin pembukaan lahan secara masif seperti tambang terbuka.
Secara operasional, footprint proyek geothermal sangat kecil.
Dalam praktiknya, satu well pad dengan luas sekitar 2–3 hektare dapat digunakan untuk mengebor hingga 8–10 sumur secara directional drilling (pengeboran miring).
Artinya, eksploitasi reservoir dapat dilakukan dengan jejak lahan yang minimal.
“Dari ratusan ribu hektare konsesi, kawasan hutan yang benar-benar digunakan bisa tidak lebih dari puluhan hektare,” terangnya.
Bagi Riza, edukasi teknis seperti ini harus terus dilakukan secara konsisten, dan tidak hanya menjelang proyek dimulai.
Di beberapa lokasi, seperti di sekitar Danau Kelimutu, Nusa Tenggara Timur, kekhawatiran publik berkembang, proyek geothermal dapat mengeringkan danau atau sumber air tanah.
Riza menekankan, geothermal adalah mining the heat —menambang panas, bukan mengambil air.
Sistemnya bersifat closed loop.
Fluida panas yang diangkat dari kedalaman sekitar 2 kilometer akan dimanfaatkan panasnya di pembangkit, lalu diinjeksi kembali ke reservoir dengan temperatur lebih rendah untuk dipanaskan ulang oleh magma.
“Kalau kita ambil 1.000 ton per jam dari bawah, keluar dari power plant tetap 1.000 ton per jam. Hanya temperaturnya yang lebih rendah, lalu kita injeksikan kembali.”
Karena pengeboran dilakukan jauh di bawah lapisan akuifer dangkal yang digunakan masyarakat, interaksi dengan air tanah hampir tidak mungkin terjadi.
Bahkan secara teknis, masuknya air tanah dingin ke sumur panas bumi justru akan merugikan proyek, karena menurunkan produktivitas sumur.
Dengan kata lain, dari sisi sistem, geothermal tidak berkompetisi dengan kebutuhan air masyarakat.
Namun, Riza juga tidak menafikan geothermal bukan tanpa risiko.
Gas hidrogen sulfida (H2S) adalah salah satu tantangan yang harus dikelola secara ketat.
H2S memang secara alami terkandung dalam sistem vulkanik.
Dalam konsentrasi tinggi, gas ini berbahaya. Industri geothermal global mencatat beberapa insiden di masa lalu, termasuk di Indonesia.
“Kalau tidak dikelola secara baik dengan kaidah safety, ini bisa berbahaya,” ujarnya terbuka.
Namun, sejak sejumlah kejadian yang menjadi pelajaran industri, standar keselamatan mengalami peningkatan signifikan:
- Penerapan sistem monitoring gas real-time;
- Prosedur evakuasi yang lebih ketat;
- Pelatihan keselamatan berlapis; dan
- Desain fasilitas dengan sistem containment dan scrubber yang lebih baik.
Bagi Riza, transparansi adalah kunci.
Industri tidak boleh defensif terhadap isu keselamatan.
Justru, keterbukaan dan perbaikan berkelanjutan yang akan membangun kepercayaan publik.
Di luar aspek teknis, dinamika sosial di lapangan jauh lebih kompleks.
Setiap proyek geothermal beririsan dengan kepentingan lahan masyarakat, struktur adat dan kepemimpinan lokal, persepsi politik daerah, serta harapan ekonomi dan kompensasi
Jika komunikasi tidak dilakukan sejak awal, proyek bisa mengalami delay bertahun-tahun—yang pada akhirnya berdampak pada keekonomian proyek.
“Isu sosial ini bisa menyebabkan delay."
"Dan delay itu otomatis berpaut ke keekonomian,” cetus Riza.
Karena itu, ia melihat peran pemerintah daerah sangat strategis.
Pengembang tidak bisa berjalan sendiri.
Perlu kolaborasi dalam sosialisasi, edukasi, serta pengelolaan aspirasi masyarakat.
Menariknya, di daerah yang proyeknya telah berjalan stabil, efek ekonomi mulai terlihat jelas.
Di Tarutung, Tapanuli Utara, misalnya, kehadiran proyek Sarulla mendorong tumbuhnya restoran, hotel, hingga usaha jasa lainnya.
Hal serupa terjadi di Mandailing Natal setelah proyek Sorik Marapi berjalan.
Bagi Riza, narasi ini penting untuk diperkuat, geothermal bukan hanya soal megawatt dan tarif listrik, tetapi juga tentang:
- Penyerapan tenaga kerja lokal;
- Peningkatan pendapatan daerah;
- Perputaran ekonomi UMKM; dan
- Infrastruktur pendukung yang berkembang.
“Multiplier effect-nya cukup signifikan. Gak hanya PNBP saja,” ucapnya.
Untuk diketahui, realisasi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang tercatat di pembukuan Kementerian ESDM sebesar Rp138,37 triliun, di mana target awal yang ditetapkan dalam Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) tahun 2025 sebesar Rp127,44 triliun.
Keberhasilan melampaui target ini didorong oleh kontribusi signifikan dari beberapa subsektor, yang terbesar berasal dari PNBP sektor Sumber Daya Alam (SDA) Mineral dan Batubara (Minerba), yang mencapai 104,38 persen dari target, SDA Panas Bumi sebesar 103,4 persen, serta sektor lainnya yang melonjak hingga 311,05 persen.
Pada akhirnya, menurut Riza, kunci utama pengembangan geothermal adalah trust.
Kepercayaan tidak dibangun lewat izin formal semata, tetapi melalui konsistensi komunikasi, komitmen lingkungan, dan kehadiran nyata di tengah masyarakat.
Industri geothermal, kata dia, tidak bisa hanya datang membawa rig dan teknologi.
Ia harus membawa pemahaman, dialog, dan kemitraan jangka panjang.
Karena bagi Riza, keberhasilan proyek bukan hanya ketika pembangkit beroperasi penuh, tetapi ketika masyarakat di sekitarnya merasa aman, paham, dan ikut merasakan manfaatnya.
- Risiko Eksplorasi
Biaya pengeboran eksplorasi bisa mencapai minimal US$6 juta per sumur.
Jika hasilnya nihil, investasi hangus.
Skema government drilling dinilai sebagai upaya baik pemerintah untuk mengurangi risiko, namun efektivitasnya perlu dievaluasi.
Geotermal dan Net Zero Emission: Kontributor Signifikan, Bukan Solusi Tunggal
Riza realistis. Ia tidak mengklaim geothermal sebagai solusi tunggal transisi energi.
“Tidak ada single solution. Geotermal signifikan, tapi tetap harus sinergi dengan EBT lain.”
Dibandingkan batu bara, tarif geothermal memang lebih tinggi.
Namun, jika memperhitungkan external cost seperti polusi dan dampak kesehatan, perbandingan menjadi lebih adil.
Keunggulan geothermal terletak pada investasi awal yang besar, namun biaya operasi yang relatif rendah, serta tidak membutuhkan supply chain bahan bakar.
Gairah Baru: Momentum yang Harus Dijaga
Menurut Riza, gairah industri mulai kembali terlihat.
Review Perpres 112 dan public hearing yang telah dilakukan memberi sinyal positif.
Banyak pemain baru menyatakan minat masuk ke geothermal.
Beberapa investor juga mulai mengakuisisi saham pengembang eksisting.
Di daerah seperti Tarutung dan Mandailing Natal, kehadiran proyek geothermal memicu multiplier effect—munculnya restoran, hotel, dan bisnis lokal lainnya.
“Sayang kan, Tuhan sudah kasih potensi besar, tapi tidak kita manfaatkan,” katanya.
Riza melihat teknologi, termasuk artificial intelligence (AI), sebagai peluang untuk meningkatkan efisiensi.
Data pengeboran dan operasi pembangkit yang melimpah bisa diolah untuk mencegah risiko seperti stuck pipe atau kerusakan dini peralatan.
“AI ini akan membantu kita membuat decision lebih berkualitas,” ujarnya.
Agility menjadi kompetensi penting di tengah dinamika teknologi dan kebijakan.
Definisi Sukses: Bermanfaat bagi Orang Lain
Di luar dunia teknis, Riza aktif dalam berbagai kegiatan yang memberi dampak sosial lebih luas.
Ia terlibat dalam dukungan pendidikan bagi komunitas di sekitar area panas bumi, melalui kegiatan CSR bersama komunitas industri geothermal, seperti Indonesian Geothermal Golf Community (IGGC), berharap semangat belajar anak-anak sekitar area operasi dapat meningkat.
Bagi Riza, definisi sukses tidak hanya soal megawatt yang dihasilkan, tetapi manfaat sosial, lingkungan, dan masa depan energi Indonesia.
“Definisi sukses bagi saya, bermanfaat buat orang lain,” tegasnya.

Menjaga Api Tetap Menyala
Perjalanan Riza Pasikki adalah refleksi perjalanan geothermal Indonesia: penuh tantangan, sarat risiko, namun menjanjikan masa depan yang lebih bersih dan berkelanjutan.
Sebagai Sekjen API dan COO Sarulla, ia berada di simpul strategis antara kebijakan, bisnis, dan teknologi.
Dengan integritas sebagai fondasi dan semangat kolaborasi sebagai strategi, Riza terus mendorong agar panas bumi tak sekadar menjadi potensi, melainkan benar-benar menjadi kekuatan.
Baca Juga: Paradoks Panas Bumi RI: Target Melangit, IRR Masih di Bawah 5%
Di negeri cincin api, panas bumi bukan sekadar anugerah geologi.
Di tangan para pemimpinnya, ia adalah harapan energi masa depan. (*)
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Yaspen Martinus
Tag Terkait: