Board of Peace hingga Hilirisasi Jadi Instrumen Kunci Dorong Target Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen
Kredit Foto: President Club
Kris juga menanggapi perdebatan publik terkait keterlibatan Indonesia dalam board of peace di tengah konflik geopolitik global. Ia menilai langkah tersebut merupakan keputusan strategis untuk menjaga posisi Indonesia dalam percaturan global.
“Pilihan Presiden Prabowo Subianto tidak mudah, tetapi saya yakin beliau mewarisi kebijaksanaan para pendiri bangsa,” ujarnya.
Dari perspektif struktural ekonomi, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Telisa Aulia Falianty menilai sumber daya alam dan hilirisasi mineral menjadi game changer untuk keluar dari jebakan pendapatan menengah.
Menurutnya, Indonesia memiliki keunggulan serupa dengan Chili yang berhasil memanfaatkan sumber daya alam untuk meningkatkan kesejahteraan.
“Game changer kita di mineral, tinggal butuh roadmap kelembagaan yang kuat,” kata Telisa.
Baca Juga: Airlangga Siapkan Strategi Kejar Pertumbuhan Ekonomi 5,6% pada 2026
Ia menegaskan kedaulatan nasional tidak berarti menutup diri dari investor asing, melainkan menyeimbangkan kepentingan nasional dengan kepercayaan investor agar tercipta penyerapan tenaga kerja dan penerimaan pajak yang optimal.
Selain itu, pemerintah perlu mendorong UMKM agar naik kelas mengingat kontribusinya mencapai 60 persen PDB dan 97 persen penyerapan tenaga kerja.
Sementara itu, Executive Director President Club Chandra Setiawan menyoroti pentingnya regulasi yang pro pertumbuhan, stabilitas, dan keadilan bagi pelaku usaha.
Ia menilai ketimpangan wilayah masih menjadi hambatan serius karena indeks persaingan usaha baru kuat di Pulau Jawa.
“Jika indeks persaingan usaha hanya berada di Pulau Jawa, maka akan ada ketimpangan. Pertumbuhan 8 persen sulit tercapai,” ujar mantan Komisioner KPPU periode 2012–2018 dan 2018–2024 itu.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Annisa Nurfitri
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: