- Home
- /
- New Economy
- /
- Energi
Defisit 100 Juta Ton, Industri Nikel Mulai Lirik Opsi Impor dari Filipina Hingga Papua Nugini
Kredit Foto: Istimewa
Di sisi lain, sejumlah proyek smelter, terutama berbasis teknologi High Pressure Acid Leach (HPAL), tengah memasuki tahap commissioning.
Proyek-proyek ini membutuhkan pasokan bijih dalam jumlah besar dan berkelanjutan.
FINI menilai tanpa tambahan pasokan, baik dari revisi kuota produksi maupun impor yang ekonomis, risiko gangguan operasional smelter akan meningkat, seiring bertambahnya kapasitas industri hilirisasi.
Baca Juga: Industri Nikel Terancam Kekurangan 100 Juta Ton Ore pada 2026, FINI Minta RKAB Direvisi
“Kalau bisa ada tambahan sekitar 30% dari kuota yang ada sekarang."
"Harapan kami tentu setinggi-tingginya, karena kalau tidak, ini cukup riskan bagi keberlangsungan industri nikel,” tuturnya. (*)
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Yaspen Martinus
Tag Terkait: