- Home
- /
- New Economy
- /
- Energi
IAGL ITB Tekankan Percepatan Hilirisasi Nikel dan Sinergi Energi demi Kemandirian Nasional
Kredit Foto: Freepik/VecMes
Ikatan Alumni Geologi Institut Teknologi Bandung (IAGL ITB) mendorong pemerintah untuk memperkuat ekosistem industri baterai berbasis nikel sebagai bagian dari strategi besar menuju kemandirian energi nasional, terutama di tengah dinamika geopolitik global.
Ketua Umum IAGL ITB Abdul Bari menegaskan bahwa kebijakan energi nasional perlu terintegrasi, tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi minyak dan gas (lifting), tetapi juga mendorong hilirisasi sumber daya strategis seperti nikel dan batu bara.
Menurutnya, penguatan industri baterai nikel menjadi sangat penting karena nikel merupakan bahan baku utama dalam pengembangan kendaraan listrik serta sistem penyimpanan energi.
“Nikel itu sebagai storage untuk EV, itu juga jadi penting buat kita, sehingga menuju kemandirian dan kedaulatan energi itu akan lebih cepat,” ujar Bari.
Ia juga menyoroti perlunya peningkatan lifting minyak melalui insentif fiskal agar perusahaan migas lebih agresif dalam melakukan eksplorasi. Selain itu, hilirisasi batu bara dinilai sebagai langkah wajib untuk memaksimalkan pemanfaatan energi domestik.
Baca Juga: Investasi Hilirisasi Mineral Capai Rp98,3 Triliun di Kuartal I, Nikel Masih Jadi Primadona
Di sisi lain, Bari mengungkapkan bahwa kebutuhan minyak nasional saat ini mencapai sekitar 1,7 juta barel per hari, sementara produksi domestik baru berada di kisaran 605.000 barel per hari. Kondisi ini menunjukkan masih besarnya ketergantungan terhadap impor energi.
“Oleh karena itu, diperlukan langkah-langkah strategis dan memperkokoh kerja sama antara akademisi, pemerintah, dan pelaku industri agar dapat menentukan arah kebijakan yang terfokus dan strategis,” kata Bari.
Sebagai langkah mitigasi, IAGL ITB mendorong percepatan eksplorasi migas secara agresif guna menjaga keberlanjutan pasokan energi dalam jangka menengah dan panjang.
Namun demikian, optimalisasi nikel dan batu bara tetap harus berjalan paralel sebagai pilar utama energi nasional.
Indonesia sendiri dinilai memiliki potensi nikel yang sangat besar, dengan kemampuan menghasilkan listrik hingga 50 GWh per tahun dan total potensi lebih dari 1 TWh. Pengembangan industri baterai berbasis nikel juga diyakini mampu memberikan nilai tambah signifikan sekaligus mempercepat transisi menuju energi bersih.
Selain nikel, batu bara masih memegang peran penting dalam ketahanan energi nasional. Indonesia memiliki sumber daya batu bara sebesar 97 miliar ton dengan cadangan terbukti sekitar 32 miliar ton.
Pemanfaatannya pun terus diarahkan ke hilirisasi, seperti gasifikasi menjadi dimethyl ether (DME), peningkatan kualitas, serta penggunaan teknologi yang lebih ramah lingkungan.
Sementara itu, Wakil Ketua Komisi XII DPR RI Sugeng Suparwoto menyatakan bahwa pemerintah terus berupaya meningkatkan lifting migas, termasuk melalui optimalisasi sumur idle dan eksplorasi cekungan baru yang belum tergarap.
“Ada 128 cekungan yang sudah tereksplorasi, eksploitasi itu baru 60 cekungan, masih ada 68 cekungan yang belum disentuh,” ujarnya.
Sugeng menambahkan bahwa pengembangan industri baterai merupakan bagian dari proses hilirisasi nikel yang dilakukan secara bertahap dalam rantai ekosistem industri. Menurutnya, Indonesia saat ini juga telah memproduksi berbagai produk turunan nikel seperti nickel pig iron (NPI) untuk kebutuhan baja dan stainless steel.
“Memang, hilir dari segala hilir adalah industri salah satunya baterai, tapi dalam konteks industri itu semuanya memang bertahap,” kata Sugeng.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Istihanah
Editor: Istihanah
Tag Terkait: