Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Sinyal Operasi Baru Amerika Serikat ke Iran: 10.000 Tentara Bakal Dikirim ke Timur Tengah

Sinyal Operasi Baru Amerika Serikat ke Iran: 10.000 Tentara Bakal Dikirim ke Timur Tengah Kredit Foto: US Army Photo/Carrie David Campbell
Warta Ekonomi, Jakarta -

Amerika Serikat dikabarkan tengah mempertimbangkan pengiriman tentara hingga 10.000 ke Timur Tengah. Hal ini dilakukan menyusul memanasnya ketegangan antara Washington dan Iran.

Dikutip dari The Wall Street Journal, Rencana tersebut masih dalam tahap pembahasan internal dan belum menjadi keputusan final. Namun, Washington dengan hal tersebut menunjukkan bahwa mereka terus meningkatkan kesiapan militernya dalam menghadapi Iran.

Baca Juga: Update Perang Iran: Prancis Siapkan Misi Demi Membuka Selat Hormuz

Menurut laporan yang beredar, pasukan tambahan ini kemungkinan akan mencakup unit infanteri, kendaraan lapis baja hingga dukungan tempur lainnya. Pasukan itu akan akan memperkuat ribuan tentara yang sudah lebih dulu ditempatkan di Timur Tengah.

Penambahan pasukan darat ini diperkirakan akan melengkapi kehadiran militer yang sudah signifikan di Timur Tengah. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump dengan hal tersebut juga memiliki lebih banyak opsi militer untuk dilakukannya ke Iran.

Sebelumnya, Amerika Serikat (AS) juga dikabarkan bersiap mengirim ribuan pasukan elitenya ke Timur Tengah. Ia dikabarkan tengah mempertimbangkan pengiriman sekitar empat ribu tentara dari 82nd Airborne Division. Pasukan tersebut saat ini berbasis di Fort Bragg, North Carolina.

Namun, Amerika Serikat belum memberikan kepastian mengenai lokasi penempatan, waktu kedatangan pasukan hingga apakah pasukan tersebut akan dikirimkan untuk masuk wilayah dari Iran.

Terbaru, Amerika Serikat untuk pertama kalinya mengonfirmasi penggunaan kapal drone tanpa awak (uncrewed surface vessels) dalam operasi militer aktif melawan Iran. Hal ini menandai eskalasi penggunaan teknologi otonom baru dalam konflik modern.

Washington menyebut bahwa mereka menggunakannya untuk patroli maritim dalam kawasan dari Timur Tengah. Ia juga digunakan untuk mendukung operasi militer dari Amerika Serikat.

Adapun Trump tengah mempertimbangkan jalur diplomasi dengan Teheran. Ia telah mengirimkan proposal damai yang berisi lima belas poin yang menekankan pentingnya penghentian pengembangan teknologi nuklir oleh Iran.

Trump ingin negara tersebut untuk menghancurkan stok uranium yang diperkaya tinggi dan menghentikan program pengayaan uranium. Iran juga diminta untuk membatasi program rudal balistik dan menghentikan dukungan mereka terhadap sekutu regional di Timur Tengah.

Ia juga memperingatkan bahwa jika proposal tersebut tidak diterima, maka pihaknya akan memberikan tekanan militer yang lebih berat ke Iran. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa meskipun ada jeda sementara, risiko eskalasi tetap tinggi apabila negosiasi gagal.

Situasi ini mencerminkan pendekatan ganda yang dilakukan Amerika Serikat. Washington menjaga tekanan militer sekaligus membuka peluang negosiasi dengan menjaga posisi tawar dari Barat. Namun, eskalasi militer yang naik berpotensi memicu dampak luas, termasuk pada harga energi dan stabilitas ekonomi dunia lebih lanjut. 

Baca Juga: Efek Serangan Amerika Serikat, Opsi Bangun Senjata Nuklir Makin Dilirik Iran

Sejauh ini, belum ada kepastian apakah rencana pengiriman pasukan tambahan tersebut akan direalisasikan. Namun, perkembangan ini menegaskan bahwa konflik masih berada dalam fase yang sangat dinamis dan berisiko tinggi.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Aldi Ginastiar