AS Siapkan Serangan Darat ke Iran, Tanda Perang Masuk Fase Baru
Kredit Foto: Istimewa
Konflik antara Amerika Serikat dan Iran berpotensi memasuki fase yang lebih berbahaya setelah Pentagon dilaporkan mulai menyiapkan opsi operasi darat. Situasi ini memunculkan kekhawatiran bahwa perang bisa meluas dan berlangsung lebih lama di kawasan Timur Tengah.
Dikutip dari The Washington Post, persiapan tersebut mencakup pengerahan ribuan tentara Amerika ke kawasan. Pasukan yang disiapkan terdiri dari marinir dan unit tempur reguler yang dapat digerakkan sewaktu-waktu jika eskalasi benar-benar terjadi.
Namun, operasi darat yang dipertimbangkan tidak mengarah pada invasi besar-besaran. Skenario yang disiapkan lebih berupa serangan terbatas dengan melibatkan pasukan khusus dan infanteri untuk misi tertentu.
Targetnya pun spesifik dan strategis. Di antaranya adalah pulau Kharg yang menjadi pusat ekspor minyak Iran, serta fasilitas militer di wilayah pesisir dekat Selat Hormuz.
Salah satu sumber menyebut operasi seperti ini tidak akan berlangsung singkat. Jika dijalankan, misi tersebut bisa memakan waktu hingga beberapa bulan, tergantung situasi di lapangan.
Meski begitu, keputusan akhir tetap berada di tangan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Hingga kini, belum ada tanda pasti apakah rencana tersebut akan benar-benar disetujui.
Pihak Gedung Putih pun mencoba meredam spekulasi yang berkembang. Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt menegaskan bahwa langkah Pentagon sebatas persiapan.
“Itu adalah tugas Pentagon untuk melakukan persiapan guna memberikan Presiden sebagai panglima tertinggi berbagai opsi yang maksimal,” ujarnya.
Ia menambahkan, persiapan tersebut bukan berarti presiden telah mengambil keputusan. Semua opsi masih terbuka dan akan dipertimbangkan sesuai perkembangan situasi.
Di sisi lain, risiko yang dihadapi jika operasi darat dilakukan juga tidak kecil. Pasukan Amerika berpotensi menghadapi serangan balasan berupa drone dan rudal dari Iran yang selama ini dikenal cukup kuat.
Ketegangan ini merupakan kelanjutan dari konflik yang pecah sejak akhir Februari 2026. Saat itu, Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan ke sejumlah kota penting Iran, termasuk Teheran.
Washington berdalih langkah tersebut diambil untuk meredam ancaman nuklir dan rudal Iran. Namun, serangan itu langsung memicu respons keras dari Teheran.
Islamic Revolutionary Guard Corps atau Garda Revolusi Iran kemudian melancarkan serangan balasan ke berbagai target, termasuk wilayah Israel. Sejumlah pangkalan militer Amerika di kawasan Teluk juga ikut menjadi sasaran.
Serangan tersebut dilaporkan menyasar basis militer di Bahrain, Yordania, Kuwait, Qatar, Arab Saudi, hingga Uni Emirat Arab. Situasi ini memperlihatkan bahwa konflik tidak lagi terbatas pada dua negara, melainkan mulai menyeret kawasan yang lebih luas.
Baca Juga: Menlu AS: Operasi Militer terhadap Iran Akan Berakhir dalam Hitungan Pekan
Dalam perkembangan paling mengejutkan, pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei dilaporkan tewas dalam serangan tersebut. Peristiwa ini semakin memperkeruh kondisi politik dan meningkatkan tensi konflik secara signifikan.
Kondisi yang terus memanas, opsi operasi darat menjadi sinyal bahwa konflik bisa memasuki tahap yang lebih serius. Jika benar dijalankan, langkah ini berpotensi memperluas perang dan meningkatkan risiko instabilitas global.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Ferry Hidayat
Tag Terkait: