Memohon ke Trump, Mesir Desak Gencatan Perang Iran dan Amerika Serikat
Kredit Foto: Istimewa
Mesir mendesak adanya gencatan senjata hingga negosiasi damai untuk mengakhiri perang dari Iran dan Amerika Serikat. Menurutnya, konflik kedua negara tersebut berpotensi memicu krisis global.
Presiden Mesir, Abdel Fattah al-Sisi mengaku baru-baru ini telah bertemu dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Ia menyebut sang presiden adalah satu-satunya yang memiliki pengaruh cukup besar untuk menghentikan konflik di Timur Tengah.
Baca Juga: Iran Sebut Proposal Amerika Serikat Tak Realistis, Pertimbangkan Keluar NPT
"Saya katakan kepadanya, tidak ada seorang pun yang dapat menghentikan perang kita selain kamu. Tolong, Trump, tolong. Tolong bantu kami menghentikan perang ini. Anda mampu melakukannya," kata Sisi.
Sisi juga memperingatkan bahwa harga minyak dunia dapat melonjak hingga lebih dari US$200. Ia menilai kekhawatiran tersebut bukan berlebihan, mengingat konflik telah mengganggu fasilitas energi dan jalur distribusi minyak global.
Menurutnya, serangan terhadap kilang dan fasilitas produksi energi akan berdampak serius terhadap ekonomi dunia. Hal tersebut juga diperburuk dengan gangguan jalur pelayaran tanker minyak di Selat Hormuz.
"Saya khawatir bahwa penargetan fasilitas energi, baik produksi maupun kilang, akan memiliki dampak yang sangat serius bagi perekonomian global dan harga bahan bakar," katanya.
Sisi juga menyoroti potensi double shock berupa kekurangan pasokan energi dan lonjakan harga global. Kondisi ini dinilai belum sepenuhnya terasa, namun berpotensi memburuk dalam waktu dekat jika konflik terus berlanjut.
Sisi juga mengingatkan adanya ancaman terhadap pasokan pangan dunia. Gangguan ekspor pupuk akibat konflik dapat meningkatkan harga bahan pangan secara signifikan, terutama dalam negara berkembang.
Ia menekankan bahwa negara kaya mungkin mampu menahan dampak perang dari Iran dan Amerika Serikat. Namun negara berpenghasilan menengah dan rentan akan menghadapi tekanan berat terhadap stabilitas ekonomi.
"Negara-negara kaya mungkin mampu menyerapnya, tetapi bagi negara-negara berpenghasilan menengah dan negara-negara dengan perekonomian yang rapuh, hal itu dapat berdampak sangat, sangat parah pada stabilitas mereka," katanya.
Mesir sendiri terus mendorong upaya diplomasi untuk mencegah konflik meluas. Kairo juga berperan aktif dalam berbagai inisiatif perdamaian di Timur Tengah.
Sebelumnya, Trump menyatakan bahwa pihaknya tengah bernegosiasi dengan rezim yang lebih rasional di Iran. Namun memperingatkan bahwa kegagalan mencapai kesepakatan akan berujung pada serangan besar.
Ia mengancam akan menghancurkan berbagai fasilitas vital negara tersebut jika tak ada pembukaan dari Selat Hormuz. Trump mengatakan bahwa pihaknya akan menghancurkan pembangkit listrik, sumur minyak, sumber air bersih hingga pusat ekspor minyak dari Iran, Kharg Island.
Adapun Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei menyebut proposal damai yang dikirimkan tidak logis dan berlebihan. Ia menyoroti sejumlah isi proposal yang dikirimkan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Menurut laporan, proposal damai tersebut berisi sejumlah tuntutan untuk Iran. Teheran di dalamnya diharuskan untuk menghancurkan stok uranium yang diperkaya tinggi dan menghentikan program pengayaan uranium. Mereka juga diminta untuk membatasi program rudal balistik dan menghentikan dukungan mereka terhadap sekutu regional di Timur Tengah.
Selain itu, ada juga tuntutan yang mengejutkan terkait dengan Selat Hormuz. Amerika Serikat disebut ingin memiliki kontrol atas selat yang menjadi jalur vital perlayaran tanker minyak itu.
Baghaei menegaskan bahwa proposal itu tidak dapat diterima. Ia menegaskan bahwa pihaknya dalam kondisi diserang secara militer, sehingga seluruh upaya difokuskan pada pertahanan nasional.
Baca Juga: Efek Perang Iran, Pesawat Amerika Serikat Tak Diizinkan Gunakan Langit Spanyol
"Posisi kami jelas. Kami sedang mengalami agresi militer. Oleh karena itu, semua upaya dan kekuatan kami difokuskan untuk membela diri," katanya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait:
Advertisement