Desak Trump, Paus Leo Ingin Konflik Iran-Amerika Serikat Berakhir Sebelum Paskah
Kredit Foto: Istimewa
Pemimpin Gereja Katolik, Paus Leo kembali memberikan kritikan terkait dengan perang dari Iran, Israel dan Amerika Serikat. Kali ini dirinya secara langsung mendesak sosok dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Paus Leo mengatakan bahwa pihaknya ingin presiden tersebut segera mencari jalan keluar guna mengakhiri perang dengan Iran. Seruan ini menjadi salah satu pernyataan paling langsung terhadap seorang pemimpin dunia terkait konflik yang tengah berlangsung.
Baca Juga: Menhan Amerika Serikat: Beberapa Hari ke Depan Akan Jadi Penentu Operasi di Iran
"Saya diberitahu bahwa dia baru-baru ini menyatakan bahwa dia ingin mengakhiri perang. Mudah-mudahan dia mencari jalan keluar. Mudah-mudahan dia mencari cara untuk mengurangi kekerasan," kata Leo.
Paus Leo menyampaikan harapannya agar politikus tersebut benar-benar mencari cara untuk menurunkan intensitas konflik dari Iran dan Amerika Serikat.
Ia menegaskan pentingnya menghentikan kekerasan yang telah menelan banyak korban, termasuk anak-anak. Paus juga berharap perang dapat berakhir sebelum perayaan dari Paskah di 5 April.
"Sudah banyak kematian, termasuk anak-anak yang tidak bersalah. Mari kita terus menyerukan perdamaian. Terlalu banyak orang yang mempromosikan pertempuran, kekerasan (dan) perang," kata Leo.
Paus Leo dalam beberapa pekan terakhir semakin vokal mengkritik konflik dari Iran dan Amerika Serikat. Sebelumnya, ia menyatakan bahwa tuhan menolak doa para pemimpin yang memulai perang dan memiliki tangan penuh darah.
Pernyataan tersebut mencerminkan sikap tegasnya terhadap konflik bersenjata yang berdampak pada warga sipil. Paus Leo menegaskan bahwa terlalu banyak pihak yang mendorong kekerasan dan perang, sehingga diperlukan upaya bersama untuk menghentikan konflik dari Iran dan Amerika Serikat.
Adapun Trump mengatakan bahwa pihaknya berpotensi mengakhiri serangan militer terhadap Iran. ia mengatakan bahwa perang akan berakhir dalam waktu dua hingga tiga pekan ke depan seiring upaya damai dengan negara terkait. Namun sebelumnya ia sempat memberikan peringatan keras ke Teheran.
Trump mengancam akan menghancurkan berbagai fasilitas vital negara tersebut jika tak ada kesepakatan damai dan tak ada pembukaan dari Selat Hormuz. Ia mengatakan bahwa pihaknya akan menghancurkan pembangkit listrik, sumur minyak, sumber air bersih hingga pusat ekspor minyak dari Iran, Kharg Island.
Sementara Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi mengkonfirmasi bahwa pihaknya memang melakukan komunikasi dengan Amerika Serikat. Namun hal tersebut tidak bisa disebut sebagai negosiasi resmi.
Menurutnya, pesan yang disampaikan melalui perantara lebih berupa pertukaran pandangan dan ancaman, bukan dialog diplomatik formal. Ia sendiri mendapatkan pesar yang diteruskan dari Utusan Khusus Amerika Serikat, Steve Witkoff.
Serupa, Presiden Iran, Masoud Pezeshkian membuka peluang berakhirnya perang dalam percakapannya dengan Presiden Dewan Eropa, António Costa. Ia menyatakan bahwa pihaknya membuka upaya negosiasi damai dengan Israel dan Amerika Serikat.
Baca Juga: Tanpa Kesepakatan, Amerika Serikat Akan Segera Akhiri Operasinya di Iran
Namun dirinya menekankan bahwa pihaknya perlu jaminan keamanan hingga komitmen bahwa serangan tidak akan dilakukan kembali oleh Tel Aviv dan Washington. Hal ini mengingat bahwa pihaknya telah diserang saat melakukan negosiasi dengan kedua pihak sebelumnya di Februari 2026.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait:
Advertisement